Tari Indang (Dindin Badindin) : Sejarah, Filosofi Gerakan dan Musik Pengiring

0

Tari Indang atau juga dikenal dengan tari Dindin Badindin adalah salah satu tarian khas pesisir Pariaman, Sumatera Barat. Gerakan tari yang tegas serta diiringi dengan tuturan lisan ini sekilas mirip dengan tari saman (Aceh). Namun, gerakan tari Indang lebih variatif dan sarat akan da’wah.

Indang sebenarnya merujuk pada alat musik menyerupai rebana, namun berukuran lebih kecil (sekitar 18 – 25 cm). Ini juga menjadi pembeda antara tari Indang dengan Tari Saman. Jika tari saman menggunakan pelafalan serta bunyi-bunyian A Capella yang berasal dari tepuk tangan dan anggota badan, Tari Indang banyak menggunakan indang sebagai pengatur tempo musik.

Sejarah Tari

Tari Indang diperkirakan diadaptasi dari kebudayaan arab. Dengan bukti Indang yang digunakan serta penuturan lisan yang mengiringi tarian sarat akan shalawat dan dakwah. Karena memang tarian ini dahulunya berfungsi sebagai alat dakwah.

Tari indang dulunya dimainkan oleh pemuda-pemuda selepas mengaji di surau-surau. Nyanyian disesuaikan dengan tujuannya sebagai sarana pendidikan dan dakwah islam. Pada masa-masa berikutnya barulah kemudian tarian ini berkembang menjadi tari yang sifatnya hiburan, tanpa menghilangkan sisi dakwah tentunya.

Gerakan Tari

Jumlah penari Indang biasanya bervariasi dari 9 hingga 25 orang, yang penting ganjil. Gerakan dibuat dinamis dan bervariasi. Sesekali para penari memagang dan memukul Indang untuk menghasilkan bunyi-bunyian sekaligus mengatur tempo. Kadang Indang ditaruh didepan, dan sesekali di jentik dengan jari mereka. Gerakan tari kadang meliuk ke depan dan ke belakang berselang seling, kadang ke kanan dan kiri secara bergantian. Namun masih tetap dalam satu shaf (barisan).

Ada dua hal wajib yang harus ada dalam permainan Tari ini.

  • Tukang Zikir
Baca Juga :  'Randai' : Uniknya Gabungan Seni Drama, Tari, Musik dan Teater

Orang ini biasanya berada di belakang di luar barisan penari. Tugasnya adalah untuk menyanyikan nyanyian tari. Tukang Zikir biasanya berjumlah satu orang. Saat tukang zikir menyanyi, nyanyian akan diulang dan diikuti semua penari secara bersama-sama.

  • Tukang Alih

Orang ini berfungsi sebagai pemimpin tarian, serta penentu perubahan setiap gerakan tari. Posisinya tergabung didalam penari. Ia akan memberikan beberapa kode saat moment pergantian gerakan. Selain itu, Tukang alih juga berperan dalam mengatur tempo dan dinamika tarian.

Musik Tari

Dahulunya musik yang digunakan berasal dari indang itu sendiri, serta diiringi dengan Nyanyian yang dilafalkan Tukang Zikir. Masa itu tarian ini berfungsi terbatas untuk media dakwah. Lain halnya dengan perkembangan sekarang, dimana tarian juga berfungsi sebagai media hiburan.

Zaman sekarang, musik yang lazim dipakai adalah Lagu Dindin Badindin, yang dipopulerkan oleh Elly Kasim dan Tiar Ramon pada tahun 1980-an. Sehingga wajar saja kemudian tari Indang juga dikenal sebagai Tari Dindin Badindin.

Dendang Dindin Badindin

Balari lari bukannyo kijang
Pandan tajamua di muaro
Kami manari basamo samo
Paubek hati dunsanak sadonyo

Ikolah indang oi Sungai Garinggiang
Kami tarikan basamo samo
Sambuiklah salam oi sambah mairiang
Pado dunsanak alek nan tibo

Bamulo indang ka ditarikan
Salam bajawek (ondeh) ganti baganti
Lagu lah indang kami nyanyikan
Supayo sanak (ondeh) basuko hati

Baca Juga :  Tari Lilin : Sejarah, Fungsi, Gerakan dan Musik Pengiring

Dindin badindin oi dindin badindin
Dindin badindin oi dindin badindin

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.