pernikahan-adat-minang

Kekerabatan yang Muncul Setelah Adanya ‘Pernikahan’ Adat Minang

Posted on

Pernikahan dalam adat minang tidak hanya menciptakan hubungan baru (suami-istri). Pernikahan melibatkan sistem kekerabatan yang kompleks, sehingga setelahnya pun akan menciptakan sistem kekerabatan baru yang tidak hanya sebatas suami istri. Pernikahan bukanlah sekedar menyatukan dua insan, tapi sekaligus dua keluarga besar.

Adapun kekerabatan yang muncul setelah dilangsungkannya pernikahan berdasar adat minang adalah,

Suami Istri

Tujuan utama pernikahan adalah untuk menyatukan dua anak manusia, anak daro & marapulai yang kemudian berubah statusnya menjadi suami istri. Keduanya kemudian menyatukan dua keluarga yang sebelumnya tidak memiliki keterikatan kekerabatan, sehingga semua kerabat istri dan suami menimbulkan status baru dalam sisitem kekerabata.

Sumando Pasumandan

Sumando adalah sebutan untuk seorang suami, semua saudara dan keluarga besar si Istri akan menyebut si Suami dengan panggilan urang sumando. Sedangkan didalam keluarga besar pihak laki-laki, si Istri akan disebut sebagai pasumandan. 

Sumando di rumah istri merupakan tamu terhormat. Ia diperlakukan amat hati-hati seperti “menenteng minyak penuh”. Hubungannya dengan saudara-saudara laki-laki istrinya segan-menyegani. Mereka saling menghormati keberadaannya masing-masing

Mintuo dan Minantu

Suami sebagai urang sumando  sekaligus memiliki status minantu  dari orang tua pihak perempuan. Relasi keduanya haruslah harmonis, mengingat biasanya suami akan tinggal di rumah istri, yang notabene serumah dengan mertuanya. Selain itu, statusnya sebagai urang sumando , bak abu di atas tungku. Ia haruslah menjaga martabat keluarga istrinya, jika tidak mau diusir oleh mertuanya sendiri.

Baca Juga :  Mengenal 4 Jenis Rangkiang Rumah Gadang & Filosofi dan Kegunaannya

Ipa dan Bisan

Saudara perempuan dan saudara laki-laki dari suami dipangil disebut ipa (ipar) oleh istri. Saudara laki-laki dari istri, oleh suami dipanggil bisan dan saudara perempuan disebut ipa (ipar). Hubungan timbal balik antara keluarga suami dengan keluarga istri, juga disebut bisan.

Bako dan Anak Pisang

Relasi bako dan anak pisang adalah hubungan yang dimiliki oleh anak pasangan suami-istri tersebut dengan keluarga laki-laki. Misalnya, bila anak terlahir dari pasangan ayah yang memiliki suku ChaniagoKeluarga besar ayah, bahkan lebih besar lagi, kaum suku chaniago adalah Bako si anak. Sedangkan keluarga bako akan menganggap si anak sebagi Anak Pisang urang Chaniago.

Demikian hubungan kekerabatan yang muncul akibat pernikahan. Munculnya berbagai status baru tentunya menyebabkan adanya tanggungjawab baru daam keluarga besar, sesuai status yang ia jabat. MIsalnya, seorang laki-laki harus bisa membedakan kapan ia berstatus sebagai suami, atau urang sumando, dll.

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D