Filosofi dan Fungsi Rangkiang Rumah Gadang
Filosofi dan Fungsi Rangkiang Rumah Gadang

Filosofi Rangkiang Rumah Gadang & Fungsinya

Posted on

Rumah Gadang adalah sebuah mahakarya dari sebuah arsitektur Minangkabau. Setiap sisinya diperhatikan dengan detail. Setiap rumah gadang tentunya memiliki Rangkiang. Bangunan kecil ini pun dibuat bergonjong seperti arsitektur rumah gadang. Hanya saja desain dibuat sederhana, dengan 4 atau 6 buah tiang, berdinding anyaman bambu, tanpa pintu, dan diatap bergonjong dua.

Rangkiang adalah ruang penyimpanan padi hasil panen. Keberadaan rangkiang merupakan identitas dan keadaan perekonomian suatu kaum. Apakah kaum tersebut mampu mengakomodasi kebutuhan makan hari ini dan hingga untuk masa yang akan datang (padi bibit).

Bangunan tanpa pintu ini berdiri kokoh di halaman rumah gadang. Sebagai ganti pintu dibuatkan singkok yang berada di bagian atas salah satu dindingnya. Sehingga untuk menyimpan atau mengambil padi, biasanya digunakan tangga bambu yang disimpan di kolong apabila sudah tidak digunakan lagi.

Rangkiang seringkali disebut juga dengan istilah Lumbung. Baik rangkiang maupun lumbung keduanya meiliki arti yang sama, yaitu tempat penyimpanan (Padi).

Istilah rangkiang sendiri menurut sejarawan dan juga sastrawan minang, A A Navis, diadaptasi dari akar kata Ruang Hyang Dewi Sri. yang berarti ruang penyimpanan dewi sri-padi. Padi yang dipanen dibagi-bagi berdasarkan prioritas keperluan, kemudian disimpan di dalam rangkiang.

Setelah panen padi, masyarakat kemudian menympannya dalam rangkiang. Keempat rangkiang diisi sesuai dengan proporsi dan fungsinya masing-masing. Berdasarkan fungsinya, rangkiang terbagi menjadi 4 jenis, yaitu;

Rangkiang Sitinjau Lauik

“Rangkiang tagak sajaja
Di tangah sitinjua lauik
Panjapuik si dagang lalu
Paninjau pincalang masuak

Rangkiang sibayaubayau adalah jenis rangkiang yang berfungsi untuk menyimpan padi untuk kebutuhan sehari-hari. Termasuk didalamnya untuk pembiayaan kebutuhan yang sifatnya harian ataupun belanja barang-barang yang tidak bisa dibuat sendiri.

Bentuknya sengaja dibuat langsing dan memiliki 4 tiang. Biasanya diletakkan dibagian tengah.

Rangkiang Sibayau Bayau

Di kanan si bayau-bayau
Lumbuang makan patang pagi

Rangkiang si Bayau-bayau adalah rangkiang yang berfungsi untuk pemenuhan keperluan makan sehari-hari. Disainnya dibuat gemuk dengan 6 tiang. Biasanya terletak di bagian kanan rumah gadang.

Rangkiang Sitenggang Lapa

Di kiri sitenggang lapa
Tampek si miskin salang tenggang
Panolong urang kampuang
Di musim lapa gantuang tungku

Dahulu, tekonologi pertanian masih sangat tradisional. Musim bercocok tanampun masih tergantung pada musim hujan. Sehingga ketika sempat terjadi gagal panen, maka terjadilah musim paceklik, dimana masyarakat susah mendapatkan makanan.

Ketika musim paceklik tiba, disanalah kemudian isi rangkiang ini dipergunakan. Rangkiang ini merupakan penolong disaat masa sulit, tidak hanya bagi pemilik rumah gadang tapi kerapkali dipinjam-pinjamkan apda masyarakat sekitaryang juga kekurangan makanan.

Rangkiang ini memiliki bentuk persegi dengan 4 tiang. Biasanya terletak di sebelah kiri.

Rangkiang Kaciak

Lumbuang kaciak salo-manyalo
Tampek manyimpan padi abuan”

Kaciak berarti kecil. Rangkiang ini memang dibuat paling kecil dari yang lainnya. Disinilah padi abuan disimpan. Bila saat bertanam tiba, padi ini diambil untuk disemai. Bangunan kecil ini biasanya terletak diantara ketiga rangikiang lainnya yang lebih besar.

Demikian filosofi rangkiang bagi masyarakat minang. Segala sesuatunya harus dipersiapkan sesuai prioritas. Meskipun sekarang sudah tidak ada lagi yang yang menggunakan rangkiang, karena memang mendapatkan beras di pasar-pasar sudah sangat mudah. Serta menyimpan dalam bentuk uang tabungan tentunya lebih fungsional daripada padi. Namun setidaknya kebiasaan menabung dan berjaga-jaga bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.

Rangkiang & Pandemi Covid-19

Namun sayangnya saat ini tidak ada lagi masyarakat yang masih memberdayagunakan rangkiang. Selain karena memang jumlah rumah gadang yang tinggal sedikit. Selain itu adanya pergeseran kebiasaan masyarakat. Keberadaan pasar yang mudah diakses kapanpun dan dimanapun. Sehingga sangat jarang ada keluarga yang menympan beras/padi dalam jumlah besar.

Sangat disayangkan, dalam kondisi pandemi covid-19 seperti saat sekarang. Mungkin visi dari nenek moyang dahulu seharusnya bisa terpakai. Betapa banyak keluarga yang perekonomiannya yang susah akibat pandemi, banyak perantau minang yang tutup usaha dan kembali ke kampung.

Penyesalan datang selalu di akhir. Jika boleh berandai-andai. Jika saja ada rangkiang si Tenggang Lapa. Tentu ada banyak keluarga yang bisa terbantu. Ataupun jika saja rangkiang kaciak masih ada. Perantau yang balik kampung bisa mulai kembali menggarap tanah sawah & ladang yang mungkin sudah mulai liat karena lama ditinggal berdagang di tanah rantau.

Tetap sehat semua orang minang, dimanapun berada di bumi Allah.

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D