Tradisi Unik Masyarakat Pariaman Pada Peringatan Maulid Nabi

0

Peringatan Maulid Nabi diperingati setiap 12 Rabiul Awal penanggalan Hijriah. Ada berbagai cara untuk untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad tersebut. Biasanya dilkukan dengan mengadakan pengajian di surau-surau dan masjid. Ceramah agama mengenai bagaimana memaknai perjalanan Rasulullah dan perjuangan beliau menagakkan agama Islam, dan harus kita teruskan hingga ke anak generasi islam berikutnya. Namun di beberapa daerah memiliki tradisi unik dalam memperingati maulid nabi.

  • Makan Basamo di Surau

Tradisi unik ini memang sudah jarang ditemui sejak beberapa tahun belakang. Setiap peringatan Maulid Nabi, jamaah beramai-ramai ke surau mendengar pengajian. Setelah pengajian diakhiri dengan prosesi makan basamo. 

Pelaksanaannya pun berbeda-beda, beberapa daerah ada yang sudah lengkap dengan bawaan rantang berisi nasi dan lauk-pauk. Ada juga yang hanya membawa nasi, sedangkan lauk dimasak bersama-sama oleh para ibu.

Tradisi ini menceriminkan kebersamaan, gotong royong dan saling berbagi antara satu sama lain. Hiduk ado agiah baragiah, hiduik indak salang manyalang. (saat ada kelebihan, saling memberi. Jika tidak punya, saling pinjam meminjamkan)

Dikia/Salawat dulang adalah tradisi dakwah lisan yang diperkirakan berasal dari wilayah pariaman. Sampai saat ini tradisi ini masih sering dilakukan, terutama pada peringatan maulid nabi. Nilai-nilai keislaman yang disampaikan dengan digabungkan dengan dendang (tradisi lokal masyarakat minang) tentunya akan lebih mudah diterima.

Baca Juga :  Ungku Saliah, Ulama Kebanggaan Minang dari Pariaman

Pelaksanaannya pada malam hari, semalam suntuk hingga fajar menjelang. Dakwah yang didendangkan biasanya berisi penyampaian panji-panji keislaman. Sesekali ada waktu rehat. Waktu tersebut digunakan untuk makan basamo di surau, ataupun pengumpulan dana infaq dan Sedeqah demi kepentingan umat, misalnya pembangunan masjid secara fisik ataupun mental (pengajian, TPA, dll).

Membuat lemang secara beramai-ramai, tentunya akan menambah semangat gotong royong dan kebersamaan. Semua unsur masarakat dilibatkan, pemuda mencari buluh/bambu untuk cetakan lamang. Kemudian kaum bapak membuat tungku dan mencari kayu bakar, Sedangkan kaum ibu menyiapkan bahan adonan untuk membuat lamang.

Lamang yang dibuat kemudian dihidangkan sebagai kudapan pada acara pengajian peringatan maulid nabi. Seringkali lamang dihidangkan dengan tapai, atau ketan hitam.

Sehingga peringatan maulid nabi terrasa lebih semarak, ketika semua elemen masyarakat kemudian dengan senang hati mengikuti rangkaian peringatan dan terutama pengajian, untuk memperbaharui keimanan diri masing-masing.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.