songket-pandai-sikek

Keunikan Songket Pandai Sikek : Proses Pembuatan hingga Penggunanan

Posted on

Songket adalah ciri khas nagari Pandai Sikek yang bahkan sudah dikenal hingga mancanegara. banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung untuk melihat proses pembuatan kain tenun, hingga menjadi barang jadi yang siap diperjual belikan.

Sejarah songket pandai sikek diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Masuknya komoditi benang emas dan sutera menandai awal perkembangan seni ulaman dan suji, termasuk tenunan songket. Tidak diketahui tahun pasti akan seni turun temurun ini. Sejarah yang ada berupa penuturan lisan, yang jika dirunut keatas ditemui beberapa nama yang diperkirakan menjadi pionir. Dianaranya Inyiak Makau, Inyiak Suri, Inyiak Banang, Inyiak Karok. 

Makau, suri, banang dan karok adalah beberapa kebutuhan dasar yang dibutuhkan dalam proses menenun. Makau  adalah benang berwarna emas yang memberi warna dominan pada motif tenunan. Dinamakan demikian diperkirakan karena komoditi ini berasal dari daerah Macau, Tiongkok. Makau dan benang Suto (sutera) berpadu dan saling mengisi untuk menghasilkan bentuk motif tenunan. Sedangkan Suri dan Karok  adalah penahan dan pembagi helaian banang tagak. (hamparan benang)

Proses awal pembuatan tenunan tradisional ini disebut mancukia, yaitu pembuatan motif hamparan benang dengan kayu kecil pipih dan panjang. Teknik dasar nya hampir sama dengan menganyam. Kemudian hasil mancukia  ditenun dengan Makauh dan banang suto , dan juga ‘disimpan’ di ujung satunya dengan lidi. Terus hingga kemudian membentuk setengah motif utuh, lalau kemudian motif yang ‘disimpan’ di lidi disuruikkan. Ini lah kemudian yang membuat motif tenunan pandai sikek selalu simetris.

Baca Juga :  Pandai Sikek Sebagai Sentra Wisata Ekonomi dan Budaya Sumatera Barat

Motif yang dibuat biasanya adalah motif yang umum, namun juga kadang disesuaikan dengan permintaan pembeli. Misalnya motif sungayang dan koto gadang. Keduanya merujuk pada motif khas daerah kedua daerah tersebut, sungayang dan koto gadang.

Kain songket ini selain diperjual belikan untuk kemudian dibuatkan pakaian adat (baju anak daro), juga digunakan untuk tando. pada proses perkawianan (batimbang tando), songket ini lazim dimasukan sebagai tando  bagi masyarakat pandai sikek.

Keunikan lain dari songket pandai sikek ini adalah pembuatannya yang masih serba manual, (ini yang membedakannya dengan songket silungkang) serta bentuk motifnya yang relatif kecil dan halus membuatnya terlihat mewah, wajar saja kemudian dipasang harga mahal untuk setiap lembarnya. Selain itu, karena pembutannya masih tradisional dengan tangan kerapkali ada kesalahan kecil pada motif. Namun justru itu menjadi ‘pemanis’ dari songket. ‘Kesalahan itu adalah wajar dalam perbuatan tangan manusia’ begitu ujar Emi, salah satu pengarajin tenunan songket ini.

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D