Biografi Tan Malaka, Bapak Bangsa yang ‘Pernah Terlupakan’

0

Hari ini (2 Juni) di 120 tahun yang lau, tepatnya pada tahun 1897. Bumi minangkabau menjadi saksi kelahiran seorang anak yang kelak akan menjadi seorang bapak perjuangan, bapak bangsa. Kehidupannya yang penuh onak dan duri semenjak kecil, bahkan menjelang dewasa ia harus mrelakan gelar Datuk, gelar kebesaran dari kaumnya akibat keberaniannya untuk menentang norma umum yang berlaku saat itu. Ia ingin meneruskan sekolah jauh ke negeri Belanda, bangsa yang sudah lama menjajah dan merampas kemerdekaan dari tanah Indonesia.Dialah Tan Malaka.

Tan Malaka adalah salah seorang tokoh bangsa yang seringkali berseberangan dengan pahlawan lain seperti Soekarno dan Moh Hatta.  Meskipun sama-sama memiliki darah minang ditubuhnya, Moh Hatta dan Malaka memiliki prinsip yang berbeda, terutama mengenai konsep kemerdekaan.

Malaka dengan ide ‘Merdeka 100 Persen’ tidak suka dengan strategi diplomatis yang digunakan Bung Karno dan Hatta. Menurutnya, kemerdekaan yang diperoleh dengan jalan politik bukanlah kemerdekaan yang sesungguhnya. Karena kemerdekaan dan kesejahteraan hanya akan dirasakan oleh petinggi dan para elit.

Kemerdekaan yang hakiki adalah kemerdekaan dengan jalan revolusi. Dengan demikian setiap rakyat merasa turut serta merebut dan memperjuangkan kemerdekaannya.

Profil Tan Malaka

Tan malaka memiliki nama kecil Sutan Ibrahim. Lahir di Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota pada 2 juni 1897. Malaka kecil menghabiskan waktunya untuk belajar agama islam, adat minangkabau dan tidak lupa Silat, sebagai seni beladiri.

Pendidikan formalnya ia jalani di Fort de Kock (Bukittinggi). Ia menjadi salah satu murid terbaik. Bahkan salah seorang gurunya G Horensma menjadikannya murid kesayangan. Bahkan gurunya tersebut menawarkan Malaka untuk menjadi guru bahasa belanda disana, melihat kemampuannya dalam menguasai bahasa tersebut.

Terusir Secara Adat

Setelah menamatkan pendidikannya di KweekSchool, pada tahun 1913. Tan Malaka pulang kampung untuk memikul gelar pengulu adat. Sultan Ibrahim ini kemudian resmi bergelar Tan Malaka, sebuah gelar semi-bangsawan dari kaumnya.

Sayangnya gelar tersebut tidak lama bisa ia sandang. Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di Belanda membuatnya berseteru dengan Datuk dan Ninik Mamak. Keinginannya tersebut ditentang oleh keluarga besar dan kaumnya, mengingat Belanda adalah musuh.

Baca Juga :  Profil Ratu Sikumbang - Penyanyi Lagu Minang Masa Kini

Namun Tan Malaka dengan segenap jiwa mudanya yang ingin bebas dan cenderung radikal ini menolak mentah-mentah keinginan para tetua. Akibatnya, dalam sebuah rapat adat disepakati bahwa gelar bangsawannya dicopot dan ia diusir dari kampung.

Tan Malaka di Belanda

Sesampai di Belanda, Tan Malaka harus berjuang sendirian mengingat tidak ada lagi kemluarga yang bisa menerimanya, apalagi membiayai pendidikannya. Keadaan ini semakain diperparah dengan culture shock yang ia alami selama di Belanda. Belum lagi ia harus beradaptasi dengan cuaca (dingin) yang semakin meperparah penyakit peluritis (radng pleura-paru paru) yang dideritanya.

Selama di Belanda, Malaka banyak membaca buku dinamika dan perkembangan politik dunia. Disinilah kemudian ia banyak mengenal paham-paham Demoratis, Sosialis, Komunis. Ia mulai membenci budaya Belanda dan banyak belajar budaya Amerika dan Jerman. Bahkan ia beberapa kali menyamar agar bisa ikut mendaftar di militer jerman.

Pendidikannya di Belanda berantakan, karena terlalu sibuk dengan organisasi sosialis. Selain itu kondisi penyakitnya yang semakin parah membuatnya tidak punya pilihan lain, selain meninggalkan negara dengan 4 musim tersebut.

Tan Malaka & Perjuangan Kemerdekaan

Selepas pendidiaknnya di Belanda, tokoh minang ini pulang dan mengajar di Deli, Sumatera Utara. Selain mengajar ia seringkali menuliskan propaganda menentang kolonialisme, Ia merasa geram melihat kondisi pribumi yang terbelakang, miskin dan kelaparan. Sering juga ia menuliskan surat ke ISDV, partai komunis di Belanda yang kemudian menjadi cikal bakal partai komunis indonesia.

Meskipun seringkali berseberangan pendapat dengan tokoh pergerakan lainnya seperti Soekarno & Hatta, Tan Malaka gencar untuk menyuarakan kemerdekaan dari mimbar ke mimbar pada pertemuan buruh. Beliau gencar menyuarakan revolusi untuk merebut Indonesia dari tangan-tangan penjajah.

Setelah kemerdekaan, Bapak bangsa yang mempelopori haluan kiri ini sempat dibui karena mendalangi penculikan Sutan Syahrir, perdana mentri saat itu. Ia dipenjara selama dua tahun, hingga meletus pemberontakan PKI di Madiun pada september 1948. Ia dibebaskan begitu saja.

Baca Juga :  Beda 'Konsep Kemerdekaan' Menurut Hatta dan Tan Malaka

Kematian Tan Malaka

Setelah bebas dari penjara, Tan Malaka lari ke Kediri. Ia berniat mengumpulkan sisa sisa pasukan Muso (PKI). Sayagnya usaha tersebut mengantarkannya pada ajal, Beliau meninggal pada 21 Februari 1949 dalam usaha pemerintah menumpas habis pasukan Komunis Indonesia tersebut.

Hampir 15 tahun setelah kematiannya, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Kepres No.53 pada 28 maret 1963. Gelar tersebut disematkan oleh Ir Soekarno atas jasanya ikut bergerilya melalui propaganda dan sumbangan ide dan pokok pikirannya untuk kemerdekaan Indonesia.

Pada masa orde baru, nama bapak bangsa ini terlupakan . Namanya tidak pernah sekalipun dimunculkan dan dibahas dalam sejarah bangsa Indonesia. Off the record, istilahnya. Kemudian setelah orde baru tumbang, Datuk asal lima puluh kota yang terkenal akan karya fiksi Madilog ini kemudian kembali masuk dalam buku sejarah..

Madilog & Gerpolek

Tan Malaka adalah pribadi yang kritis, ia banyak membaca sehingga banyak buah pikirannya yang ia tuangkan dalam bentuk karya di media masa. Mengingat hidupnya yang morat marit lari dari kejaran Belanda, belum lagi bangsa sendiri yang sering menganggapnya tokoh radikal sosialis, sehingga tidak mungkin bagi Tan Malaka untuk menulis buku saat itu. Tulisannya di media massa pun seringkali menggunakan nama samaran.

Diantara ratusan tulisan Tan Malaka, ada 2 karyanyan yang sangat diingat yaitu Madilog dan Gerpolek.

 Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) berisi cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti.

Lain halnya dengan Gerpolek (Gerilya Politik dan Ekonomi) yang berisi benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian yang merupakan sikap konsisten yang jelas pada gagasan-gagasan dalam perjuangannya.

Selain gagasan Merdeka 100 Persen, Tan Malaka juga terkenal dengan quote-nya “Dari Dalam Kubur, Suara Saya lebih Keras”

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.