Moh Hatta dan Tan Malaka – Saat Beriringan Hingga Bersimpang Jalan

0

Tan Malaka dan Hatta adalah dua diantara sembilan tokoh minang yang bergelar Bapak Bangsa. Baik Hatta maupun Tan Malaka sama-sama pernah sekolah di Belanda. Keduanya sudah meninggalkan tanah minang untuk merantau sejak usia belasan tahun.

Semasa belajar di Belanda, keduanya sudah aktif berorganisasi untuk menyuarakan kemerdekaan. Hatta memilih jalan yang lebih diplomatis, ia bergabung dalam Perhimpunan Indonesia, bahkan sempat memimpin organisasi pelajar tersebut.

Sedangkan Tan Malaka dinilai lebih radikal. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh paham-paham Sosialis-Marxisme. Ia bahkan sangat membenci pemerintahan Belanda, dan sempat beberapa kali ikut mendaftar menjadi tentara Jerman.

Latar Belakang Kehidupan

Moh Hatta terkenal sebagai pribadi dengan pembawaan kalem dan bahkan cenderung kaku. Ada yang menyebutkan bahwa beliau sangat jarang tersenyum, sekalipun tersenyum hanya dalam batas wajar dan tidak tampak gigi. Sesuai dengan sunah dalam agama Islam. Karena memang Hatta berasal dari keluarga yang agamis. Ayahnya adalah seorang ulama tarekat yang tersohor di Batu Hampar dan Bukittinggi.

Tan Malaka adalah orang yang dikenal lebih luwes. Semasa kecil ia sangat akrab dengan silat dan kebudayaan minang. Bahkan pemilik nama asli Sultan Ibrahim ini sempat bergelar datuk, Tan Malaka  itulah gelar adat minang yang sempat diterimanya. Hingga kemudian gelar adat tersebut harus direlakan setelah ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda. jadilah ia orang terusir, oleh keluarga dan kaum adatnya di Suliki, Kabupaten 50 Kota.

Perjuangan Kemerdekaan

Moh Hatta lebih menyenangi langkah politik untuk merebut kemerdekaan. Langkah tersebut sesuai dengan pemikiran rekan dwitunggal, Bung Karno. Hatta cenderung untuk menghindari konflik dan lebih memilih jalan perundingan.

Baca Juga :  Jasa Rahmah El-Yunusiyah pada Pendidikan Perempuan Minang

Langkah yang diambil Hatta, dan juga Soekarno dan rekan perjuangannya yang lain, adalah dengan menyuarakan kemerdekaan indonesia lewat mimbar-mimbar di organisasi pergerakan, serta pidato di tingkat parlemen.

Meskipun sama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka berpendapat bahwa jalan diplomasi tidak akan memberikan arti kemerdekaan sepenuhnya. Dengan menunjukan itikad baik kepada kolonial (penjajah), kemudian berharap mereka akan berbaik hati memberikan hadiah ‘kemerdekaan’. Hal ini sangat tidak masuk akal bagi Tan Malaka.

Sehingga kemudian Tan Malakalebih banyak bergerak di bawah. Ia menggerakan buruh, kaum tani dan orang tertindas lainnya untuk melakukan revolusi merebut kemerdekaan atas bangsanya sendiri. Langkah diplomasi hanya akan memberikan kemerdekaan bagi segelintir orang, hanya elit dan petinggi yang bisa merasakan hidup sejahtera. Sedangkan jika kemerdekaan direbut dengan revolusi, Indonesia akan benar-benar Merdeka 100 Persen. Itulah makna kemerdekaan sesungguhnya.

Dibuang & Diasingkan

Sepulang dari Belanda, Moh Hatta harus menerima takdirnya di pengasingan lantaran menolak untuk masuk dalam parlemen dan lebih memilih untuk berjuang di Indonesia. Sebelum dipindahkan ke Bandar Neira, ia sempat dibuang ke Digul, Papua. Selama di pengasingan, Hatta banyak membaca dan menulis untuk koran-koran.

Tan Malaka tidak sempat menyelesaikan pendidikannya di Belanda, karena alasan penyakit pleuritis yang membuatnya tidka bisa bertahan di daerah dingin. Sepulang dari Belanda, Ia sempat mengajar di Dili. Namun kemudian ia diburu Belanda karena dituduh mendalangi dan memprovokasi petani gula untuk mogok kerja dan menuntut kesejahteraan bagi mereka sekeluarga.

Hidup Membujang

Moh Hatta terkenal sebagai sosok yang pemalu, terutama ketika bertemu dengan perempuan. Ia lama membujang dan menghabiskan waktu dan pikirannya hanya untuk perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Hingga kemudian sahabat dekarnya, Bung Karno mempertemukan dan menjodoh-jodohkan beliau dengan Rachmi Rahim.

Baca Juga :  Biografi Tan Malaka, Bapak Bangsa yang 'Pernah Terlupakan'

Bung Hatta kemudian menikahi Rachmi Rahim pada 18 November 1945. Saat itu Hatta sudah berusia 43 tahun dan istrinya baru 19 tahun. Dari pernikahan tersebut Hatta dikaruniai 3 anak perempuan,  Meutia Farida HattaGemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Setidaknya nasib Hatta sedikit lebih baik dari Tan Malaka. Tan Malaka yang seringkali berbeda pendapat dengan Soekarno, Hatta dan tokoh lainnya dianggap sebagai tokoh radikal. Perjuangannya untuk Merdeka 100 persen membuatnya seringkali dianggap sebagai tokoh kiri (oposisi). Selain itu, dengan idealsime sosialis yang dianutnya membuat Tan Malaka diburu oleh pemerintahan saat itu, karena dianggap terlibat dengan pergerakan komunisme saat itu.

Tan Malaka dikisahkan sempat menjalin hubungan dengan perempuan Banten. Hanya saja kehidupannya yang penuh dengan kejar-kejaran, membuat Tan Malaka tidak pernah sampai pada jenjang rumah tangga.

Gelar Pahlawan

Bung Hatta mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada 7 November 2012, sesuai dengan ketetapan presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono. Selain gelar pahlawan nasional, beliau juga menerima gelar Pahlawan Proklamator pada tahun 1986, diberikan langsung oleh Presiden Soeharto.

Tan Malaka mendapatkan gelar pahlawan bangsa pada 28 Maret 1963, sesuai dengan Keputusan Presiden RI no.63 dan diberikan langsung oleh Ir. Soekarno. Pada masa orde baru, Tan Malaka ‘dihapuskan’ dari catatan sejarah, karena dianggap berhubungan langsung dengan pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setalah reformasi, Tan Malaka kembali diajarkan dalam pendidikan sejarah. Ia kemudian lebih dikenal sebagai Bapak Bangsa yang terlupakan.

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated Student of University of Indonesia. Gadih Minang asli. Lahia di Ranah Minang & Gadang jo Samba Randang. Hoby Menari Minang, Menyanyi Lagu Minang dan Terutama Makanan Minang :D

Comments are closed.