Pertunjukan Teater Siti Nurbaya
Siti Nurbaya Mati diracun Datuk Maringgih

Sinopsis & Review Cerita ‘Siti Nurbaya’ dari Novel Karya Marah Rusli

Posted on

Novel Siti Nurbaya adalah karya sastra populer yang ditulis oleh Marah Roesli. Novel roman ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1922 dengan judul Sitti Norbaja : Kasih Tak Sampai. Hingga sekarang, novel yang menjadi satu dari 8 novel mahsyur ini masih sering dijadikan pembahasan dalam dunia sastra.

Novel yang sangat lekat dengan budaya minang ini memiliki latar masa penjajahan Belanda. Bercerita tentang kasih tak sampai antara seorang Samsul Bahri dan Siti Nurbaya akibat intrik dan kelicikan Datuk Maringgih. Sehingga keduanya mati dengan mengenggam asmara masing-masing yang tak kesampaian.

Latar Belakang Novel Siti Nurbaya

Penulisan novel Siti Nurbaya erat dengan kehidupan pribadi Marah Rusli, sang penulis. Setelah 50 tahun lebih terkubur, kisah itu kemudian muncul dalam autobiografinya yang bertajuk ‘Memang Jodoh’.

Rusli terusir dari tanah adatnya sendiri, Minangkabau, akibat jatuh cinta dengan perempuan Sunda. Kisah pelik percintaan, perjuangan dan pengusiran ini kemudian dituangkan dalam sebuah karya fiksi. Kisah cintanya dimetaforakan dengan tokoh Samsul Bahri yang dicoret dari keturunan bangsawan Padang dan terusir dari tanah ulayatnya sendiri.

Sinopsis Novel Siti Nurbaya

Nurbaya dan Samsul adalah teman sejak kecil. Beranjak dewasa, keduanya berubah menjadi sepasang kekasih. Sayang, kemudian mereka terpisah karena samsul harus bersekolah di Batavia. Namun samsul berjanji untuk melamar Nurbaya setelah menamatkan studi di tanah Jawa. Itu merupakan janji suci kisah cinta mereka berdua.

Tak lama berselang, Nurbaya harus menerima kenyataan pahit bahwa usaha ayahnya bangkrut. Ditambah dengan tagihan utang yang selalu datang, sampai pada satu hari Pemberi hutang, Datuak Maringgih, menawarkan Nurbaya sebagai penebus utang Bagindo Sulaiman, ayah Siti Nurbaya.

Nurbaya menimbang masak-masak keputusannya. Ia dengan lapang hati bersedia menikah dengan Rentenir tua tersebut untuk melunasi semua hutang ayahnya. Naas, malang datang bertimpa-timpa. Tak lama berselang setelah ia menikah, ayahnya meninggal karena makan hati. Tak kuat ia menerima kenyataan pahit yang harus diterima Nurbaya.

Kabar itu sampai di tanah seberang, Samsul tahu bahwa kekasihnya telah diakal-akali oleh tua bangka bernama Datuak Maringgih. ia bertekad untuk merebut kembali kekasihnya serta membalas dendam keluarga Nurbaya.

Malang, Samsul kemudian masuk jebakan Datuk Maringgih. Ia harus rela diusir oleh ayahnya, keluarganya dari Padang. Lebih sakit lagi ketika ia harus bisa menerima keadaan bahwa kekasihnya mati diracun oleh Tua Bangka tersebut.

Butuh bertahun tahun lamanya sampai ia berhasil membalas dendam. Dalam sebuah serangan Belanda ke Minangkabau, Samsul berhasil membunuh Datuak Maringgih dengan Tangannya sendiri.

Adaptasi Novel ke Film

Novel anyar ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Kemudian sudah 2 kali di filmkan. Yang pertama pada tahun 1991, dimana Nurbaya diperankan oleh Novia Kolopaking. Kemudian pada tahun 2004, dimana Nia Ramadhani berpera sebagai Nurbaya.

Selain itu sebagai bentuk apresiasi, dibangunlah Jembatan Siti Nurbaya untuk mengenang kisah roman ini. Serta Taman Siti Nurbaya yang berlokasi di Gunung Padang. Masyarakat setempat mempercayai bahwa kuburan Siti Nurbaya berada di sana. Berdampingan dengan Kuburan Samsul Bahri.

“Biarpun tak sampai di dunia, biarlah menjadi kekasih di akhirat” 

Bila anda melancong ke Sumatera Barat, bolehlah anda mengunjungi destinasi wisata sejarah ini, menapaki Jembatan Siti Nurbaya terus ke Taman Siti Nurbaya di Gunung padang.

Comments

comments

Gravatar Image
Perantau minang yang selalu 'rindu' kampung halaman. Tertarik dengan semua jenis kesenian minang, tari, musik, teater dll