Kelebihan dan Kekurangan Sistem Kekerabatan Matrilineal di Minangkabau

0

Minangkabau adalah pemegang sistem kekerabatan Matrilineal terbesar di dunia. Alur keturunan diwariskan menurut garis keturunan ibu, termasuk warisan Harta Pusaka Tinggi. Pemegang harta adalah pihak perempuan (Bundo Kanduang), sedangkan lelaki (Mamak) hanya boleh mengolah dan sifatnya sebagai penjaga pusaka.

Hal ini sekilas menjadi titik kelemahan orang minangkabau. Namun kenyataannya sistem ini menempatkan perempuan pada posisi yang mulia. Sebagaimana Rasulullah yang sangat menjunjung tinggi kedudukan perempuan.

Kelebihan Sistem Matrilineal

Harta Pusako Tinggi diwariskan dari generas ke generasi menurut garis keturunan ibu. Pemegang kunci tersebut adalah Bundo Kanduang. Meskipun demikian, Bundo Kanduang tidak boleh memutuskan  secara sepihak atas harta tersebut, tetap melali musayawarah dengan para laki-laki (Ninik Mamak).

Kepemilikan perempuan (Bundo Kanduang) tidak bisa diintervensi oleh suaminya. Laki-Laki (suami) dalam sebuah keluarga memiliki peran sebagai Urang Sumando. Ia tidak berhak untuk ikut campur dengan urusan keluarga pasukuan istrinya.

Kelebihan lainnya dari sistem ini adalah ketika terjadi perceraian, anak akan tetap terjamin keberlangsungan hidupnya. Saat perceraain, anak-anak akan tinggal bersama ibunya. Bayangkan bila sistem yang digunakan adalah garis keturunan Patrilineal (ayah). Saat bercerai, istri dan anak-anaknya tidak memiliki harta apa-apa untuk menjamin keberangsungan hidup mereka.

Kekurangan Sistem Matrilineal

Dahulunya, jumlah orang minang, laki laki ataupun perempuan, yang menikah dengan orang luar minangkabau jumlah belum begitu banyak. Ada kecendrungan di masyarakat, untuk menjodohkan anak kemenakannya dengan sesama orang minang, tujuannya adalah agar adat tetap lestari dan harta pusako tetap terjaga (indak putuih).

Ada dua kemungkinan yang terjadi bila terjadi pernikahan lintas budaya Minang. Si anak kemungkinan memiliki dua suku, dari ibu dan ayahnya, atau tidak memiliki suku sama sekali.

Saat perempuan minang menikah dengan orang luar, yang menganut sistem Patrilineal (garis keturunan ayah), otomatis sia anak akan memiliki dua suku (suku minang & marga ayahnya). Si anak masih bisa mewarisi adat dan kebudayaan minang, termasuk harta pusako. Ia masih memiliki mamak yang mengajarinya tentang adat istiadat.

Lain halnya jika laki-laki minang yang menikah dengan perempuan luar. Akan terjadi tabrakan budaya. Menurut ayah (minang), anaknya tentulah harus menurut sistem kekerabatan ibunya, sedangkan menurut ibunya (bukan minang), anak haruslah sesuku dengan ayahnya. Sehingga kemudian anak tidak memiliki suku, anak tidak memiliki mamak.  Dalam budaya minang, digambarkan sebagai berikut.

‘baparak ka parak urang,

indak buliah batanam tabu

bamamak ka mamak urang

indak buliah tampek mangadu”

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.