Kopi ‘Kawa Daun’ dan Sejarah Kelam Penjajahan Belanda

0

Sekarang banyak pebisnis yang ekspansi kopi kawa daun menjadi salah satu menu andalan di kafe mereka, terutama di kota besar. Sedangkan di daerah asalnya kopi berbahan dasar seduhan daun kopi ini tetap dinikmati di dangau-dangau. DItemani dengan penganan kecil seperti pisang goreng, tentunya akan semakin nikmat.

Disajikan dalam batok kelapa yang dibelah dua, kemudian dialas dengan tatakan berupa potongan bambu. Tampilannya memang sungguh sanak unik, dengan menampilakan ciri khas kearifan lokal. Kemudian kebiasaan minum kawa dari gelas batok ini tetap dilanjutkan dimanapun ia dihidangkan.

Minuman yang banyak ditemui disekitar Batusangkar, dan kabupaten Tanah Datar ini ternyata menyimpan sejarah kelam. Ada cerita kepedihan masa kolonilaisme Belanda. Masa itu, rakyat diwajibkan menanam tanaman keras dan rempah-rempah, kemudian direbut paksa oleh Belanda, termasuk kopi. Sehingga masyarakat saat itu bahkan tidak bisa menimkati apa yang mereka tanam. Kemudian timbul ide untuk menyeduh daun kopi, itulah yang kemudian lebih lazim disebut aia kawa.

Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringkan daun kopi, kemudian disangarai sekitar 12 jam. Daun-daun tersebut kemudian diseduh dengan air mendidih, layaknya kopi. Aia Kawa Daun kemudian bisa dinikmati dengan sedikit tambahan gula, sesuai selera. Bahkan saat ini, sudah ada yang mengkreasikannya dengan menambahkan susu.

Tradisi minum kawa biasa dilakukan di dangau-dangau, saat jam-jam istirahat dari bekerja di sawah atau ladang. Biasanya di sore hari atau menjelang malam, sembari ditemani makanan kecil. Menyeruput kopi kawa yang masih mengepulkan asap di sore hari, syahdu bukan?

Baca Juga :  'Bilih Singkarak', Disajikan Sederhana Rasa Bintang Lima

Sekarangpun banyak pondok kawa daun yang bisa anda jumpai dengan mudah, terutama di kawasan Batusangkar, Padang Panjang, Bukittinggi hingga ke Payakumbuh. Biasanya disambi dengan makanan kecil seperti ketan durian, ketan dan pisang goreng, atau beberapa jenis gorengan.

Bahkan beberapa pebisnis minang membawa minuman ini ke rantau dan menyajikannya di kafe-kafe yang lebih modern. Perpaduan kearifan lokal dengan tema modern, klasik bukan. Namun tetap memikat.

Bila anda merencanakan wisata ke sumatera barat, jangan lupa mencicipi varian kopi tradisional khas minang ini. Minum langsung dari tempat asalnya tentu lebih nikmat bukan? yuk piknik ke sumbar.

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated Student of University of Indonesia. Gadih Minang asli. Lahia di Ranah Minang & Gadang jo Samba Randang. Hoby Menari Minang, Menyanyi Lagu Minang dan Terutama Makanan Minang :D

Comments are closed.