Sawahlunto International Songket Carnival (SiSCa) 2018 dihelat Agustus

0

Songket tidak hanya memiliki nilai historis dan artistik. Hasil karya tangan ini juga mmeiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Sebagai hasil karya cipta yang kaya dengan nilai filosofis, wajar saja songket kemudian menjadi salah satu ciri khas yang masih dipertahankan dan dikembangkan hingga saat ini oleh masyarakat Minangkabau.

Setidaknya ada dua daerah penghasil songket yang terkenal dari Sumatera Barat. Keduanya adalah Pandai Sikek dan Sawahlunto. Bahkan songket sempat terpatri dalam uang rupiah pecahan lima ribu emisi tahun 1999. Disana terlihat keelokan perempuan dengan keahliannya menenun songket.

Songket Minangkabau

Songket nusantara memiliki sejarah panjang. Diperkirakan karya tekstil ini sudah ada sejak masa-masa kerjaan Sriwijaya. Hasil kebudayaan ini diperkirakan muncul pada abad ke-enam dan terus berkembang di beberapa tempat di Nusantara. Tak hanya di Sumatera, yang notabene sangat kental dengan budaya melayu, bahkan songket berkembang di wilayah lain di pulau Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Lombok.

Songket Minangkabau mulai berkembang pesat pada awal abad ke 19. Hingga sekarang, sogket Minangkabau (Pandai Sikek & Silungkang) menjadi songket yang terkenal dan unggul secara kualitas dan keindahan motif-motifnya.

Sawahlunto International Songket Carnival 2018

Untuk lebih memperkenalkan songket Minangkabau ke dunia Internasional. Pemerintah Sawahlunto mengadakan karnaval songket yang memamerkan kreasi songket dari berbagai pengrajin dan seniman songket Sawahlunto. Event ini diadakan setiap tahun sejak tahun 2015 hingga sekarang.

Baca Juga :  Danau Biru Sawahlunto. Destinasi Wisata yang 'Tak Sengaja' Terbentuk

Sawahlunto International Songket Carnival (SiSCa) 2018 akan kembali diadakan dari tanggal 24-26 Agustus 2018 di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk merayakan dan mendongrak industri songket setempat sehingga warisan budaya ini dapat terpelihara.

“Mudah-mudahan acara ini akan menghidupkan semangat penenun untuk terus menciptakan hal baru dengan menggunakan tradisi lama Silungkang,” kata Walikota Sawahlunto Ali Yusuf.

Kembali pada tahun 2015, karnaval tersebut memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk jumlah peserta terbanyak dalam sebuah acara songket.

Acara tersebut akan menampilkan Pameran Internasional Songket pada 24-26 Agustus, Cilik Fashion Show pada 24 Agustus, SISCA Night pada 25 Agustus, Konferensi Songket Nusantara pada 25 Agustus dan Karnaval Songket Silungkang pada 26 Agustus.

Songket Silungkang kebanyakan dibuat dengan tangan, yang memberikan penenun kebebasan untuk menciptakan banyak motif dan warna yang sesuai dengan keinginan pasar. Warna yang paling dominan adalah merah dan hitam tapi yang modern menawarkan banyak warna lain, seperti hijau dan biru.

Songket dianggap sebagai nilai warisan, tidak hanya karena benang emasnya tapi juga fungsinya sebagai aksesori kostum tradisional.

Menghargai acara penting ini, Menteri Pariwisata Arief Yahya dengan hangat menyambut baik pementasan Karnaval Songket Internasional Sawahlunto, “Semoga hal itu tetap sebagai inspirasi tidak hanya sebagai daya tarik budaya, namun yang lebih penting sebagai sumber kreativitas bagi perancang dan operator pariwisata indonesia untuk membawa ide bagi masyarakat. Melalui Festival Songket ini kami berharap ciri khas budaya indonesia yang unik akan menjadi event yang lebih dikenal di dunia, Kami berharap sukses SISCa 2018, “kata Menteri Arief Yahya.

Baca Juga :  Danau Biru Sawahlunto. Destinasi Wisata yang 'Tak Sengaja' Terbentuk

Comments

comments

Share.

About Author

Established Since "Gunuang Marapi Sagadang Talua Itiak"

Comments are closed.