Sinopsis dan Review ‘Robohnya Surau Kami’ dari Novel A.A Navis

0

Surau kami sudah roboh. Tak ada lagi orang yang shalat didalamnya. Tak ada orang mengaji apalagi mengadakan pengajian. Tempat yang diperuntukan untuk ibadah itu kini sudah usang tak terawat, dindingnya rapuh, atapnya bocor, lantainya lapuk.

Sesekali anak-anak menggunakannya untuk tempat bermain. Sedangkan ibu mereka kadang mengambil kepingan perkayuan untuk memasak. Tinggal menunggu waktu hingga surau itu benar benar ambruk dan rata dengan tanah.

Dulunya ada seorang gaek yang menghuni surau tersebut, beliau menjadi garin disana. Setiap kali waktu shalat masuk, ia tak pernah telat mengumandangkan azan. Begitulah setiap hari, kegiatannya banyak dilakukan di surau tersebut. Shalat, mengaji alquran, zikir dan ibadah lainnya, tak pernah ketinggalan sekalipun ia sakit.

Untuk makan sehari-hari ia mendapat seperempat dari infaq jumat. Atau sesekali ada yang berderma kepadanya, baik itu sekedar sedeqah biasa, atupun zakat (zakat fitrah dan zakat mal). Itupun sudah lebih dari cukup, mengingat beliau hanya tinggal seorang diri.

Hari itu beliau nampak tengah mengasah pisau cukurnya. Memang beliau lebih dikenal sebagi tukang asah pisau dibanding sebagai garin.Terlihat gusar di wajahnya, entah apa yang ada di pikiran gaek tersebut.

“aku tak pernah meninggalkan shalat, mengaji. Aku senantiasa berzikir setiap saat. Ibadah sunatpun tak ketinggalan, tapi seenaknya saja dia mengatakan bahwa aku masuk neraka” Begitu ungkap kakek tersebut.

Baca Juga :  Sinopsis & Review Cerita 'Siti Nurbaya' dari Novel Karya Marah Rusli

Beliau gusar dengan perkataan Ajo Sidi, orang yang terkenal sebagai tukang bual nomor satu di Kampung tersebut. Banyak orang yang menahan ragam akibat bualannya yang kelewatan. Bahkan garin surau kami tak luput dia buali dengan kata-kata tak pantas.

Kabar mengejutkan datang keesokan harinya, orang berebut datang ke surau. DIsana tergeletak mayat dengan luka digorok di bagian leher. Bukan, itu bukan Ajo SIdi. Garin tersebut tidak mungkin membunuh Ajo Sidi, meskipun beliau nampak menahan marah saat menceritakan bualan Ajo Sidi.

“Paneh satahun habih dek ujan sahari”

Garin itu nekad menggorok lehernya sendiri. Ia termakan bualan Ajo Sidi yang mengatakan ia tidak akan masuk surga. Ajo Sidi bercerita, bahwa nanti di akhirat, Garin tua tersebut akan dimasukan ke dalam neraka. pasalnya, beliau hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah. Ia membiarkan anak dan cucunya dalam keadaan miskin dan menderita. Ia tinggal di Indonesia yang diberikan tuhan dengan sumber daya alam melimpah, namun merelakan tanahnya dijajah orang lain. Mereka membiarkan perut asing kenyang, sedangkan perut mereka lapar dan tidak terisi.

Pesan Moral ‘Robohnya Surau Kami’

Melalui novel ini, AA Navis ingin mengingatkan akan pentingnya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Orang yang terlalu ambisi dengan dunia akan membuatnya buta dan lupa bahwa hari esok di akhirat lebih kekal abadi.

Baca Juga :  Kisah Cinta 'Anggun Nan Tongga' dan Puti Gandoriah

Sedangkan orang yang berlebihan memikirkan akhiratnya bisa membuat dirinya lupa bahwa anak dan istrinya juga butuh makanan untuk dimakan hari ini dan esok hari. Sehingga jalan yang terbaik adalah jalan tengah-tengah, seimbang antara dunia dan akhirat.

Review Robohnya Surau Kami

Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1956.Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.

Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan pada masa sekarang ini.

Comments

comments

Share.

About Author

Perantau minang yang selalu 'rindu' kampung halaman. Tertarik dengan semua jenis kesenian minang, tari, musik, teater dll

Comments are closed.