Tradisi Unik Orang Minang Menjelang Puasa Ramadhan

0

Sebagai masyarakat yang memegang teguh Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tentunya sangat menunggu-nunggu kedatangan bulan yang mulia dan penuh pengampunan ini. Menjelang puasa Ramadhan, ada banyak tradisi dan kebiasaan unik masyarakat Minagkabau yang masih dipertahanan sampai hari ini. Untuk menyambut bulan yang suci tentunya haruslah dengan kondisi yang bersih dan suci juga, baik secara lahiriah maupun bathiniah.

Salah satu kebiasaan yang sangat lekat dengan Masyarakat minang saban datangnya bulan suci ramadhan adalah Tradisi BalimauKebiasaan ini sebenarnya sudah lama ditinggalkan, terutama sejak para ulama Minangkabau giat menyampaikan mudharat dari tradisi Balimau, apalagi saat pergi berdua-dua dengan yang bukan Muhrim.

Lalu apa saja tradisi unik masyarakat Minang menjelang puasa ramadhan?

Malamang

Lamang adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar beras ketan yang dimasak menggunakan santan. Wadah yang digunakan sangat unik, yaitu berupa bambu kecil berdiameter sekitar 20cm. Lalu bilah bambu tersebut dibakar di api hingga matang.

Menjelang puasa Ramadhan, beberapa daerah di Minangkabau sampai sekarang masih menjalankan tradisi ini. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan. Dan biasanya setelah masak bersama-sama, dilanjutkan dengan acara makan lamang bersama-sama.

Marandang

Tak jauh berbeda dengan tradisi malamang, tradisi marandang (memasak rendang) secara bersama-sama juga dilakukan sebagian masyarakat minang menjelang puasa. Tradisi marandang kerapkali diawali dengan kegiatan mambantai. yaitu menyemblih hewan ternak (biasanya sapi/lembu) untuk kemudian dagingnya diambil untuk membuat rendang dan anea olahan makanan lainnya.

Baca Juga :  Berburu Jajanan Buka Puasa, Kunjungi "Pasa Pabukoan" Favorit di Sumatera Barat

Memasak rendang merupakan pekerjaan yang cukup lama. Proses memasak rendang (asli minang) biasanya bisa lebih dari 4 hingga 5 Jam sampai rendang benar-benar matang. Untuk itu biasanya ibu-ibu membuat dapur umum untuk bersama-sama memasak rendang yang nanti digunakan sebagai lauk pada acara makan bersama.

Sembari para laki-laki menyemblih hewan ternak dan membersihkan dagingnya, ibu-ibu biasanya sudah sibuk di dapur untuk mempersiapkan segala peralatan dan termasuk bahan dan bumbu dapur yang akan digunakan untuk membuat rendang.

Goro (Gotong Royong)

Setiap ramadhan tiba, biasanya masjid akan lebih ramai dari biasanya. Akan ada banyak kegiatan yang berpusat di masjid, tidak hanya pelaksanaan Sholat Trawih berjamaah, tapi juga untuk tadarus alquran, mimbar pengajian, hingga aneka perlombaan (Musabaqah Tilawatil Quran, Lomba Pidato, Lomba Adzan dll)

Untuk itu biasanya masyarakat akan bekerjasama untuk membersihkan masjid demi kenyamanan bersama. Selain itu, untuk menunjukan kebahgiaan dan kesucian hati menyambut datangnya bulan puasa, tak sedikit masyarakat yang mulai membenahi rumah tempat tinggal hingga fasilitas umum lainnya disekitar ia tinggal.

Ziarah Kubur

Tradisi ziarah kubur hampir sama dengan tradisi nyekar pada masyarakat daerah lain. Tujuannya adalah untuk mengenang anggota keluarga yang telah dulu serta untuk menjadi pengingat diri sendiri bahwa kematian pasti akan terjadi pada setiap makhluk hidup. Tak pandang tua atau muda, laki-laki maupun perempuan, sehat maupun sakit.

Baca Juga :  Ini Bedanya 'Kids Zaman Now' dan Anak Minang 'Saisuak' Saat Lebaran Datang

Biasanya keluarga besar akan berziarah sambil membawa peralatan untuk membersihkan kuburan dari rumput-rumput liar yang menumbuhi tanah pemakaman.

Selain mengunjungi makam keluarga sendiri, di beberapa daerah di Minangkabau adapula masyarakat yang berziarah ke makam-makam para ulama dan tokoh agama.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.