Profesi dalam ‘Alek’ Minang Yang (Terancam) Punah di Zaman Modern

0

Masih adakah daerah yang menggunakan jasa pawang hujan saat ini? Kalaupun ada mungkin sudah sangat jarang, dulu ketika era 90-an hingga awal tahun 2000 masih sering dijumpai kehadiran pawang hujan, terutama untuk alek gadang misalnya saat ada acara pernikahan,bagalanggang, pacu kudo, dan permainan anak nagari lain. 

Tak hanya pawang hujan yang sudah jarang ditemui dan terancam punah, berikut beberapa profesi dalam adat dan kebudayaan minang yang keberadaannya juga terancam punah.

Urang Mamanggia

Dalam adat minang, undangan bentuknya tidak berupa fisik seperti sekarang. Keberadaan urang mamanggia  ini sangat penting dalam menyampaikan panggilan (undangan) secara lisan. Fungsinya pun dibedakan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan biasanya memanggil(mengundang) kaum ibu untuk masak memasak, sedangkan laki-laki memiliki pekerjaan lebih kompleks, yaitu memanggil (mengundang) kaum bapak, mamak, hingga ninik mamak(penghulu).

Ciri khas dari urang mamanggia  adalah sirih untuk perempuan dan rokok untuk laki-laki. Bila tuan rumah sedang pergi, maka kedua benda itulah yang menjadi penanda bahwa ada panggilan(undangan) untuk tuan rumah.

Setelah dibiasakannya menyebar undangan (fisik) maka jasa urang mamanggia  mulai ditinggalkan, karena dianggap kurang praktis.

Urang Maidang (Tukang Hidang)

Untuk acara (alek) terutama yang dihadiri oleh tokoh ninik mamak, kehadiran tukang hidang sangat penting. Tukang hidang bukanlah pekerjaan sembarangan, karena banyak aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi. Misalnya, tidak boleh menghidang dengan tangan kiri. Atau jalan tergesa-gesa dan melonjak-lonjak.

Baca Juga :  Minangkabau Lebih Luas dari Daerah Sumatera Barat sekarang. Ini Batas Wilayahnya

Tak hanya laki-laki, perempuan pun dibutuhkan untuk menjadi tukang hidang, terutama dalam status bako -bisan, sumando – pasumandan.

Sekarang, tukang hidang mulai punah apalagi alek  mulai dilaksanakan di gedung, dan disediakan prasmanan.

Tukang Masak

Dulu, urusan memasak dilakukan secara gotong royong oleh keluarga sepihak (termasuk bako). Apalagi untuk memasak wajik, pinyaram, nasi lamak, galamai dllSedangkan untuk masakan dengan keahlian khusus seperti gulai kambiang (cancang) biasanya diupahkan kepada tukang masak.

Seperti nasib tukang hidang, tukang masak pun mulai terancam punah sejak adanya prasmanan. Padahal budaya makan basamo (bajamba) adalah kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Disana terdapat nilai silaturahim, dimana mamak dan kemenakan, bapak, serta keluarga besar bisa berhadap-hadapan dan saling kenal satu sama lain.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.