kerbau-bagi masyarakat minang

Peranan dan Filosofi ‘Kerbau’ Pada Kehidupan Masyarakat Minang

Posted on

Minangkabau, kok hilang minang tingga kabau. Demikian dalam kehidupan masyarakat, jika seseorang kehilangan identitas sebagai umat yang beradat, maka dirinya dianggap sama dengan kerbau. Sarkasme ini cukup ampuh untk menjadi kontrol sosial, terutama untuk menegur kemenakan yang mulai lupa dengan identitas dirinya.

Kerbau, memang sangat identik dengan masyarakat minang. Ada beberapa alasan pemilihan peliharaan tersebut menjadi ikon sosial budaya masyarakat.

  • Kepercayaan

Seekor kerbau dengan bobot ratusan kilo dan tenaga sangat kuat secara logika bisa saja lari dari tuannya. Apalagi kekangan hanya seutas tali. Tapi begitulah bagaimana seeokr kerbau bisa meletakkan kepercayaannya pada seutas tali. Ia tahu bahwa tuannya yang memgang tali kekang adalh orang yang sudah sepatutnya ia hargai. Ia harus loyal untuk tuan yang sudah memberinya amkan, memberinya tempat berteduh. Kerbau percaya, tuannya akan senantiasa menggiringnya pada sesuatu yang baik dan ada manfaatnya.

  • Kerja Keras

Meskipun gerak kerbau lebih lambat, namun untuk urusan tenaga, janga ditanya. Kerbau termasuk hewan yang banyak digunakan tenaganya. Pada jaman dahulu, tenaganya digunakan untuk menarik bajak, menarik pedati, ataupun untuk mangilang.

Meskipun memang geraknya lambat, tapi bisa kuat menarik pedati ratusan kilo dengan isinya. Sehingga dulu, sering dijadikan sarana transportasi yang pas dimasanya.

  • Senantiasa memberi manfaat

Hampir semua bagian dapat diamnfaatkan, bahkan hingga kotorannya, seringkali dijadikan pupuk kandang. Seringkali peternak kerbau juga seorang petani. Kerbau dimanfaatkan untuk membajak sawah yang, kemudian kotorannya dijadikan pupuk kandang yang menyuburkan tanaman. Hingga saat usianya sudah cukup tua, kerbau diambil dagingnya, serta kulitnya diambil dna diloh menjadi kerupuk kulit (karupuak jangek).

Serta masih banyak lagi filosofi yang diadaptasi dari kerbau, misalnya tanduk kerbau yang dipercayai menginspirasi pembuatan bagian atap rumah gadang. Gonjong rumah gadang dianggap menyerupai tanduk kerbau yang disusun-susun sedemikian rupa.

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D