Pacu Jawi – Uniknya Atraksi Budaya Khas Tanah Datar

0

Pacu Jawi (Cow Race) adalah salah satu event tahunan yang sukses menyedot ribuan wisatawan asing masuk ke Sumatera Barat. Bahkan tidak sedikit pencinta fotografi yang berburu atraksi budaya ini hanya untuk mendapatkan jepretan saat jawi tunggangan berpacu di sawah yang basah berlumpur.

Kabupaten Tanah Datar sebenarnya bukan satu-satunya penyelenggara event pacu jawi di Sumatera Barat. Balapan yang sekilas mirip dengan karapan sapi asal madura ini juga sering diadakan di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Hanya saja promosi yang kurang gencar sehingga kegiatan pacu jawi sudah dianggap sebagai ikon pariwisata Tanah Datar.

Sejarah Pacu Jawi

Event budaya Pacu Jawi sudah ada sejak ratusan tahun. Setiap kali musim panen berakhir, masyarakat setempat mengadakan atraksi budaya ini. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk hiburan semata dan pengisi waktu hingga sawah siap kembali ditanami.

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah rentetan kegiatan yang masih orisinil seperti dahulu kala. Sebelum Jawi diperlombakan di arena ada beberapa rangkaian tradisi yang dilakukan terlebih dahulu.

Jawi yang akan beradu cepat biasanya didandani, dipakaikan baju hingga suntiang. Kemudian diarak ke arena, sambil diiringi puluhan ibu-ibu menjunjung dulang berisi makanan. Sebelum perlombaan dimulai, dipimpin oleh pemuka adat setempat didahului dengan prosesi pembukaan, berdoa, hingga makan bersama. Kemudian barulah jawi dilepas ke arena, berlomba satu persatu.

Jadwal Pacu Jawi

Sebelumnya pacu jawi adalah salah satu bagaian dari prosesi pasca panen. Sekarang atraksi budaya ini rutin dilaksanakan hampir disetiap akhir pekan, kecuali di Bulan Ramadhan. Biasanya kegiatan ini dilaksanakan di hari sabtu dan minggu, dengan tempat kegiatan digilir antar kecamatan setiap pekannya.

Baca Juga :  Kopi 'Kawa Daun' dan Sejarah Kelam Penjajahan Belanda

Untuk paruh kedua di musim 2017, berikut jadwal pacu jawi (dikutip dari kalender event Sumatera Barat 2017)

Bulan Lokasi Kecamatan
Juli (1, 8, 15, 22) Nagari III Koto Rambatan
Agustus (5, 12, 19, 26)  Nagari Padang Laweh Sungai Tarab
September (9, 16, 23, 30) Nagari Parambahan  Limo Kaum
Oktober (4, 21, 28) Nagari Tabek Pariangan
November (4) Nagari Tabek Pariangan
November (8 25) Nagari Koto Hiliang Sungai Tarab
Desember (2, 9) Nagari Koto Hiliang Sungai Tarab

Keunikan Pacu Jawi

  • Prosesi

Pacu Jawi bukan hanya sebagai media hiburan, tapi lebih dari sekedar acara keramaian. Prosesi dilaksanakan dengan tidak main-main. Tak hanya karena jawi harus didandani dan diberi pakaian, prosesi ini bahkan hampir menyerupai sebuah acara perhelatan (kenduri). Terbukti dengan adanya arak-arakan, penampilan kesenian, hingga makan bersama.

  • Lintasan

Lintasan yang digunakan adalah sawah pasca panen. Sawah sengaja diairi, sehingga berlumpur. Uniknya, cipratan lumpur yang ditimbulkan kelincahan lari jawi ini menciptakan sebuah bentuk ketertarikan tersendiri bagi penonton. Sehingga wajar saja banyak orang yang berburu foto momen-momen tersebut.

  • Pemenang

Jawi yang diperlombakan dilepas satu persatu, ini bedanya dengan karapan sapi – Madura. Pemenang akan dipilih dari jawi yang tidak hanya paling cepat, tapi juga yang larinya paling lurus. Hal ini mengandung filosofi bahwa, ketika binatang peliharaan bisa berjalan lurus, sebagai manusia tentunya haruslah berada di jalan ‘lurus’ juga.

  • Pemandangan ‘Gigit Ekor’ Jawi
Baca Juga :  Tradisi 'Lukah Gilo' Asal Tanah Datar. Kesenian Penuh Magis khas Minang

Salah satu pemandangan yang tak kalan unik adalah saat penunggang menggigit ekor (gigik ikua). Hal ini dipercaya, selain untuk mengeratkan pegangan (agar tidak jatuh) adalah untuk mempercepat lari jawi tunggangan.

Manfaat Pacu Jawi

  • Menaikan harga jual

Jawi-jawi yang diikutkan dalam pacu jawi biasanya ditawar dengan harga lebih tinggi. Apalagi jawi yang terlah berulang kali juara, harganya tentu sangat mahal. Sehingga banyak peternak yang mengikutkan peliharaannya untuk diperlombakan.

  • Meningkatkan Ekonomi Daerah

Setiapkali ada pacu jawi, banyak bermunculan warung-warung kecil yang menjual berbagai makanan dan penganan khas daerah Tanah Datar. Banyak kedai kopi kawa daun, begitu juga dengan penjual gorengan dan makanan kecil. Apalagi setelah terkenal di dunia, tentunya akan memberikan pemasukan bagi sektor pariwisata Sumatera Barat.

  • HIburan & Sarana Sosialisasi

Atraksi ini utamanya memang untuk hiburan. Namun dilain pihak, dengan adanya perhelatan ini akan mengeratkan persaudaraan masyarakat setempat. Event ini menjadi ajang sosialisasi dan kerjasama penduduk sebagai pelaksana helat.

  • Aktualisasi Nilai Adat Minangkabau

Tradisi yang sudah berumur lebih dari ratusan tahun ini memang tak hanya semata-mata untuk hiburan. Tapi wadah untuk melestarikan hasil karya cipta dan kebudayaan nenek moyang. Selain itu menjadi sarana untuk menanamkan dan aktualisasi nilai-nilai adat Minangkabau.

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated Student of University of Indonesia. Gadih Minang asli. Lahia di Ranah Minang & Gadang jo Samba Randang. Hoby Menari Minang, Menyanyi Lagu Minang dan Terutama Makanan Minang :D

Comments are closed.