Nikmati Keelokan Maninjau dari Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

0

Museum Rumah Kelahiran Hamka terletak di tepian danau maninjau, tepatnya di Kenagarian Sungai Batang, Agam. Rumah kelahiran buya ini menyimpan berbagai peninggalan tokoh yang juga terkenal sebagai ahli tafsir, sastrawan, jurnalis, ahli agama, dan ahli politik ini. Di museum ini, kita bisa melihat jejak dan perjuangan beliau, termasuk demi kemerdekaan bangsa ini.

Terletak tak jauh dari Kota Bukttinggi, akses ke museum ini relatif mudah. Apalagi bonus yang ditawarkan menjelang sampai ke destinasi wisata sejarah ini. Keelokan Kelok 44, serta Danau Maninjau dari ketinggian. Setelah melewati jalan menurun berliku-liku, kita akan dengan mudah menemukan museum yang terletak di Nagari sungai batang tersebut.

Sesuai namanya, rumah ini mengkhususkan untuk menyimpan peninggalan Buya penulis roman anyar Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ini. Rumah ini menjadi tempat kelahiran Hamka, sekaligus tempat bernaung Hamka kecil sebelum pindah ke Padang Panjang untuk belajar ilmu agama.

‘Mesin tik yang menemani Hamka melahirkan karya besar’

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) adalah seorang tokoh pembaharuan Islam di Minangkabau. Ketertarikannya akan islam kemudian membawa beliau bertemu banyak tokoh agama lagi, seperti Labay el Yunussy, Rahmah el-Yunusiyah, bahkan seorang Rasuna Said sempat belajar akan dinamika agama islam dalam pergerakan dan perjuangan merebut kemerdekaan.

Selain hasil karya Hamka semasa hidup, di museum ini pengunjung juga dapat melihat berbagai benda peninggalan dan dokumentasi perjalanan hidup Hamka. Diantara koleksi-koleksi penting museum ini adalah lukisan serta foto Buya semasa muda hingga dewasa dan sejumlah penghargaan yang pernah diperolehnya semasa hidup.

Baca Juga :  Tak Hanya Gagoan, Berikut 'Wisata Puncak' Yang Jadi Trend di Sumbar

Tampak pula dipajang berbagai foto Hamka bersama orang besar, mulai dari presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno, Ketua MPR/DPR Amir Machmud, Perdana menteri dan sekaligus ketua Partai Masyumi, Muhammad Natsir, yang juga merupakan putera asli Maninjau sama seperti Hamka,  hingga yang paling menarik adalah foto lautan manusia yang mengantarkan ke pemakaman beliau pada 24 Juli 1981.

Di ruang tamu museum, terdapat sebuah meja tempat pengunjung mengisi buku tamu. Di sebelah ruang tamu, tersusun 5 rak buku kaca tempat menyimpan buku-buku koleksi museum yang jumlahnya sekitar 200 judul. Namun dari sekitar 118 judul karya Hamka, yang tersimpan di museum ini hanya 28 judul.

Di ruang kamar, terdapat tempat tidur dengan kain kelambu berwarna putih yang dahulu menjadi tempat tidur Hamka. Selain itu, juga terdapat ruang khusus yang dilengapi kursi-kursi peninggalan orang tua Hamka, lampu gantung kuno, 1 koper ketika Hamka pertama kali berangkat haji, 8 tongkat, dan baju wisuda lengkap dengan toga ketika Hamka dikukuhkan menjadi Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Sebagian besar benda-benda peninggalan tersebut merupakan sumbangan dari berbagai pihak, terutama dari keluarga Hamka dan Universitas Kebangsaan Malaysia.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.