‘Maanta Pabukoan’ : Tradisi Elok yang Makin Jarang diamalkan

0

Momen Puasa hendaknya menjadi ajang untuk mempererat silaturahim. Menjelang ramadhan biasanya setiap anggota keluarga besar saling maaf dan memaafkan, termasuk kepada tetangga dan masyarakat luas. Berkat kecanggihan teknologi, meskipun tidka bisa bertemu secara langsung, saling meminta maaf bisa dilakukan dengan satu panggilan telepon.

Selain itu ada tradisi lain yang dapat mempererat silaturahim di bulan puasa, yaitu Maanta Pabukoan. Kebiasaan ini lazimnya dilakukan oleh menantu kepada mertua dan keluarga bako anaknya. Tak ada memang aturan baku tentang kepada siapa saja pabukoan wajib diantarkan.

Sejarah Tradisi ‘Maanta Pabukoan’

Setelah menikah, seorang lelaki tinggal di rumah istrinya dan sangat jarang untuk menemui ibunya, apalagi keluarga besarnya sendiri. Dalam moment puasa inilah, melalui tradisi saling Maanta Pabukoan, hubungan ibu dan anak ini bisa dipererat kembali. Termasuk hubungan nenek dan cucu-cucunya.

Tradisi elok ini memang makin lama makin jarang ditemui. Meskipun ada, itupun hanya oleh pasangan yang baru berkeluarga kepada mertuanya. Padahal selain dapat mempererat hubungan kekeluargaan, menyediakan makanan berbuka untuk orang berpuasa sangat besar pahalanya.

Menu ‘Pabukoan’

Menu berbuka yang dibawa sesuai dengan kemampuan si menantu. Tidak ada aturan khususnya. Biasanya yang dibawakan adalah takjil dan makanan berat. Seperti agar-agar, kolak,lapek bugih, lamang tapai, mangkuak badeta, onde-onde, pisang, hingga makanan besar seperti gulai ayam, gulai ikan, pangek daging, dll.

Semua makanan tersebut dibawa menggunakan rantang. Di masa awal biasanya menantu masih diiringi suami ketika mengantarkan pabukoan  ini. Ketika sudah punya anak, biasanya yang dibawa adalah cucu-cucu dari mertuanya tersebut. Seringkali, setelah ibu mertua dikirimi makanan, Beliau akan datang ke rumah menantunya untuk melihat cucu-cucunya sambil membawa makanan

Baca Juga :  Tradisi Unik Orang Minang Menjelang Puasa Ramadhan

Manfaat Tradisi ‘Maanta Pabukoan’

Hal yang paling jelas dari tradisi ini adalah untuk mempererat hubungan silaturahim antara anak dan orang tua, menantu dan mertua, anak pisang dan induak bako, serta cucu dengan kakek-nenek mereka.

Selain itu untuk perlambangan rasa hormat dan budi seorang menantu terhadap mertuanya. Meskipun bukan orang tua kandung, menantu tetap harus menjaga hubungan baik dengan orang tua suaminya.

Tak jarang juga, momen maanta pabukoan ini adalah inisiatif istri untuk bertukar kabar dengan mertuanya. Setelah menikah, suaminya tentu jarang mengunjungi rumah orang tua.

Saling berbagi menu berbuka untuk orang berpuasa tentunya adalah amal baik yang hanya bisa dilaksanakan dibulan Ramadhan. Lalu kenapa tradisi ini tidak dilanjutkan?

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.