Kopi ‘Kawa Daun’ dan Sejarah Kelam Penjajahan Belanda

0

Kawa Daun memang tidak sepopuler minuman tradisional minang lain, seperti Teh Talua. Namun jangan salah, dewasa ini banyak pebisnis minang yang membuka gerai dan kafe dengan menu spesifik kawa daun. Bisnis minuman tradisional dengan model bisnis modern ini ternyata laris manis, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Kopi dengan sejarah panjang ini dinilai cocok dengan lidah banyak penikmat kopi. Selain suasana yang tradisional, penyajiannya yang unik dan masih mempertahankan tradisi dari negeri asal ini menjadi nilai plus tersendiri.

Tak seperti kopi lain yang disajikan dalam gelas-gelas kaca ataupun keramik, kawa daun dihidangkan dalam batok kelapa yang dibelah dua. Sebagai tatakan digunakan potongan bambu. Penyajiannya yang unik ini tentunya sangat klasik, unik dan tentunya instagramable.

Sejarah Kawa Daun

Siapa sangka, minuman ini memiliki sejarah panjang. Minuman yang banyak ditemui disekitar Batusangkar, dan kabupaten Tanah Datar ini adalah bentuk perlawanan dan protes terhadap kolonialisme Belanda Masa itu. Kejamnya penjajahan membuat petani kopi terpaksa menikmati seduhan daun kopi setelah hasil panen biji kopi direbut paksa oleh Belanda.

‘Kawa’ berasal dari bahasa arab Qahwah  yang artinya kopi. Karena memang tanaman kopi dibawa oleh pedagang-pedagang arab ke Indonesia melalu jalur perdagangan laut masa itu.

Cara Membuat Kawa Daun

Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringkan daun kopi, kemudian disangarai sekitar 12 jam. Daun-daun tersebut kemudian diseduh dengan air mendidih, layaknya kopi. Aia Kawa Daun kemudian bisa dinikmati dengan sedikit tambahan gula, sesuai selera. Bahkan saat ini, sudah ada yang mengkreasikannya dengan menambahkan susu.

Baca Juga :  Pacu Jawi - Uniknya Atraksi Budaya Khas Tanah Datar

Tradisi minum kawa biasa dilakukan di dangau-dangau, saat jam-jam istirahat dari bekerja di sawah atau ladang. Biasanya di sore hari atau menjelang malam, sembari ditemani makanan kecil. Menyeruput kopi kawa yang masih mengepulkan asap di sore hari, syahdu bukan?

Sekarangpun banyak pondok kawa daun yang bisa anda jumpai dengan mudah, terutama di kawasan Batusangkar, Padang Panjang, Bukittinggi hingga ke Payakumbuh. Biasanya disambi dengan makanan kecil seperti ketan durian, ketan dan pisang goreng, atau beberapa jenis gorengan.

Kawa Daun Wahidin

Bahkan beberapa pebisnis minang membawa minuman ini ke rantau dan menyajikannya di kafe-kafe yang lebih modern. Perpaduan kearifan lokal dengan tema modern, klasik bukan. Namun tetap memikat.

Salah satu kafe kawa daun yang cukup dikenal di tanah rantau adalah Kawa Daun Wahidin. keberhasilan pebisnis ini meracik kearifan lokal dengan model bisnis modern menjadikannya memiliki daya pikat tersendiri. Bagi anda yang ingin menikmati minuman khas minang ini bisa menjumpainya di Jalan Margonda Raya, No.154 Depok.

Bila anda merencanakan wisata ke sumatera barat, jangan lupa mencicipi varian kopi tradisional khas minang ini. Minum langsung dari tempat asalnya tentu lebih nikmat bukan? yuk piknik ke sumbar.

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated Student of University of Indonesia. Gadih Minang asli. Lahia di Ranah Minang & Gadang jo Samba Randang. Hoby Menari Minang, Menyanyi Lagu Minang dan Terutama Makanan Minang :D

Comments are closed.