Kisah Legenda Malin Kundang: Anak Durhaka yang Dikutuk Jadi Batu

0

Suatu masa hiduplah seorang Ibu miskin yang tinggal bersama anaknya disebuah pesisir pantai. Bujang itu bernama malin, ayahnya sudah lama tak ada. Untuk makan sehari-hari ia harus membantu ibunya bekerja serabutan pada nelayan nelayan di pasar ikan. Dua orang ibu dan anak ini sudah terbiasa hidup miskin. Berteman dengan rasa lapar sudah merupakan hal yang biasa.

Hidup harus berubah, Malin kecil terlalu cepat dewasa. Ibunya bahkan masih gamang melepas ia pergi merantau. Tapi apa daya, tekad bujang itu sudah terlalu kuat. Ia sudah tidak tahan kelaparan dan hidup menderita.

Terkatung-katung dan terombang ambing dilautan, hingga singkat cerita ia diambil seorang saudagar kaya pemilik kapal dagang untuk bekerja dengannya. Malin Kundang menunjukan dedikasi yang tinggi, dalam waktu singkat ia telah mendapat kepercayaan dari Saudagar kaya tersebut.

Nasibnya berubah drastis, ia kini tak pernah lagi kelaparan, kini ia hidup berkecukupan. Hanya istri yang belum ia punya. Diam diam ia menaksir anak gadis saudagar tersebut. Sadar dirinya hanyalah anak dagang, ia tak berharap banyak, untuk kehidupan sekarang saja ia sudah sangat bersyukur.

Pintak dibari, gayuang basambuik . Saudagar kaya raya tersebut menjodohkan anak gadisnya dengan malin, Ia berharap ia bisa mempercayakan kebahagiaan anak dan bisnisnya pada bujang tersebut. AKhirnya keduanya dinikahkan dan hiduo bahagia sebagai pasangan kekeasih.

Baca Juga :  Cerita 'Bujang Sambilan' dan Asal Muasal 'Tubo' Danau Maninjau

Suatu ketika, Istri malin mengidam pada masa kehamilannya. Nasib membawanya untuk menapaki kembali pesisir tempat kelahiran malin. Demi cintanya pada sang istri, malin menurut saja.

Bagai tak percaya, ibu malin yang awalnya tak percaya bahwa bujangnya telah menjadi orang besar kemudian setengah berlari ingin memluk anaknya. Tanpa disangka, malin berubah menjadi orang yang hampir tak dikenali ibunya. Sombong  dan Congkak, bahkan ia berani membentak, mengusir ibunya. Yang paling parah, Malin tidak mengakui tua renta tersebut sebagai ibunya. Ibunya lekas menepi dalam tangisnya, Malin segera angkat sauh tak ingin masa lalunya terbongkar.

Dalam sedihnya, Ibu berdoa kepada tuhan agar anaknya diberikan hidayah. Belum kering air mata ibu, kemudian badai datang dan petir bertubi-tubi. Malin si Anak Durhaka sontak sadar dengan dosanya. Namun nasi sudha menjadi bubur. Kutukan dari ibu yang terluka hatinya telah diijabah oleh Sang Maha Kuasa. Malin hanya bisa duduk bersujud memintaampun, tapi terlambat, ia kemudian telah menjadi batu. Dan badai menyapu kapal beserta jasad malin kembali ke tepian pesisir.

Hatinya yang keras seperti batu, kesombongan serta kedurhakaannya kemudian berbuah kutukan. Dosanya tak terampuni, tinggalah ibunya menahan ragam akan ulah anaknya.

Untuk mengabadikan cerita legenda ini, dibuatkan replika kisah ini di pantai Air Manis di padang. JIka anda liburan, ada baiknya menambahkan destinasi ini menjadi tujuan wisata anda. Selain menikmati keindahan, anda juga bisa menyaksikan sisa retorika kisah malin kundang.

Baca Juga :  Sinopsis dan Review 'Robohnya Surau Kami' dari Novel A.A Navis

Review dan Pesan Moral Cerita Malin Kundang

Kisah malin kundang menjadi salah satu dongeng yang sering diceritakan oleh orang tua ke anaknya. Melalui kisah ini orang tua ingin mengajarkan kepada anaknya bahwa setiap anak hendaklah tahu di untuk, menjadi orang yang bersyukur dan yang paling utama adalah jangan sampai berbuat durhaka kepada orang tua,terutama ibu yang telah susah payah melahirkan kalian.

Kisah anak durhaka (di Indonesia) sebenarnya ada cukup banyak. Misalnya saja seperti kisah Tangkuban Perahu, (Sangkuriang) yang bahkan tidak hanya durhaka terhadap ibunya, bahkan ingin menikahi ibunya sendiri.

Namun diantara banyak kisah anak durhaka, sepertinya kisah malin kundang dari Sumatera Barat ini memiliki efek jera yang paling kuat. Banyak anak yang ‘takut’ melawan orang tua demi mendengar ancaman dikutuk menjadi batu. Apalagi dengan adanya batu malin kundang di Pantai Air Manis, Padang. Sepertinya memberi efek yang sangat kuat bagi anak-anak.

Comments

comments

Share.

About Author

Perantau minang yang selalu 'rindu' kampung halaman. Tertarik dengan semua jenis kesenian minang, tari, musik, teater dll

Comments are closed.