Sinopsis, Review dan Pesan Moral Cerita ‘Kaba Sutan Pangaduan’

0

Kaba Sutan Panganduan adalah salah satu kaba yang sangat populer di sepanjang pesisir Minangkabau, dari Pariaman hinga ke Pesisir Selatan. Kisah heroik ini diceritakan turun temurun melalui Randai maupun kisah tukang Rabab.

Kaba Sutan Pangaduan sering juga disebut dengan Kaba Malin Dewa Gombang Patuanan. Cerita ini memiliki banyak versi seiring dengan perkembangannya. Hingga sekarang bahkan cerita ini sudah melegenda dan dianggap sebagai cerita sejarah dan asal usul (penaman suatu daerah).

Sinopsis

Sutan Pangaduan adalah seorang putra mahkota di Kampung Dalam, Pariaman. Ia memiliki dua saudara tiri. Saudara tertuanya bernama Sutan Lembak Tuah yang memiliki ibu berasal dari rakyat biasa. Sedangkan saudara bungsunya bernama Puti Sari Makah, yang memiliki ibu keturunan Arab.

Suatu ketika sang ayah pergi bersemayam ke Gunung Ledang meninggalkan istri dan anak-anaknya. Pada saat bersamaan, Rajo Unggeh Layang menculik ibu Sutan Pangaduan. Hal ini karena dendam masa lalu, saat cintanya ditolak mentah mentah oleh Puti Andam Dewi, ibu Sutan Pangaduan.

Sang ayah tidak bisa diganggu dari persemayamannya. Kemudian naik tahta lah Sutan Lembak Tuah, sebagai anak tertua. Meskipun sebenarnya yang lebih berhak adalah Sutan Pangaduan, karena memang ialah putra mahkota kerajaan tersebut.

Sutan Pangaduan kemudian berkelana sambil menuntut ilmu ke kuala Pantai Cermin, kampung asal neneknya. Hal ini ia lakukan sesuai pesan Ayahnya yang ia terima melalui mimpi.

Baca Juga :  Sinopsis, Review dan Pesan Moral Cerita Kaba 'Cindua Mato'

Setelah ilmu dan kemampuan beladirinya dirasa cukup, kemudian Sutan Pangaduan pulang ke Kampung Dalam, rumahnya. Malang, ditengah perjalanan ia kena tipu, sehingga baju kebesarannya harus ia relakan. Jadilah ia datang ke Kampung Dalam dengan pakaian compang camping.

Saat itu saudaranya, Sutan Lembak Tuah tidak mengenali Sutan Pangaduan yang mengaku-ngaku bersaudara. Kemudian teradilah perkelahian. Di tengah perkelahian barulah terbuka kebenaran tersebut. Kemudian Sutan Lembak Tuah menerima kembali saudaranya tersebut di istana.

Sutan Pangaduan kemudian menyampaikan niatnya untuk membebaskan Puti Andam Dewi, ibunya, dari sekapan Rajo Unggeh Layang. Hal ini kemudian didukung oleh Sutan Lembak Tuah dan adik perempuannya Puti Sari Makah.

Singkat cerita, tiga saudara tersebut berhasil membebeaskan Puti Andam Dewi. Sebelum kembali, Sutan Pangaduan menyelematkan seorang perempuan, yang kemudian ia jadikan istri.

Pernikahan Sutan Pangaduan tidak sepenuhnya didukung oleh ibu dan saudaranya. Karena perempuan yang ia selamatkan dan peristri itu adalah anak gadis Rajo Unggeh Layang.

Benar saja, tak lama kemudian ibunya, Puti Andam Dewi kembali diculik akibat tipu daya dari istri Sutan Pangaduan. Kemudian Sutan Pangaduan dan dua sauranya kembali berangkat untuk menyelamatkan ibunya. Sayang, selama ini ia sudah termakan racun dari istrinya sehingga kesaktiannya banyak berkurang. Ketiga saudara tersebut dapat dikalahkan dengan mudah. Mereka dipenjarakan, sama dengan Puti Andam Dewi. 

Baca Juga :  Sinopsis, Review dan Pesan Moral Cerita 'Kaba Sabai nan Aluih'

Pad suatu malam purnama, terdengar petir yang sangat besar menggelegar. Hal ini menjadi pertanda bahwa putra Sutan Pangaduan sudah lahir. Anak laki-lakinya inilah yang kemudian dikisahkan menyelamatkan ayah, paman, bibi dan neneknya.

Review

Kisah Sutan Pangaduan termasuk dalam Tareh Runuik, artinya cerita ini merupakan cerita lanjutan dan memiliki kisah yang lebih rinci dari Tareh Kudian. Cerita ini berkembang sangat luas sehingga seringkali menimbulkan versi lain yang lebih baru.

Untuk mengabadikan kisah kaba ini, seorang budayawan pernah membukukannya dalam tajuk ‘Kaba Gombang Patuanan: Tradisi Lisan Minangkabau’ . Cerita ini ditulis oleh budayawan minang, Syamsudin Udin dan dibukukan pada tahun 1991.

Pesan Moral

Salah satu pesan moral yang paling menarik dari cerita ini adalah kerukuna hidup bersaudara. Meskipun Sutan Pangaduan memiliki 2 saudara tiri, namun mereka bisa hidup berdampingan dan tolong menolong dalam kesusahan.

Dari kisah ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa sejak zaman dahulu, praktik poligami, terutama di kalangan Raja adalah lumrah.

Comments

comments

Share.

About Author

Perantau minang yang selalu 'rindu' kampung halaman. Tertarik dengan semua jenis kesenian minang, tari, musik, teater dll

Comments are closed.