Fakta Unik ‘Jam Gadang’ Bukittinggi yang Tak Banyak Orang Sadari

0

Bukittinggi adalah wajah pariwisata Sumatera Barat. Kota yang dijuluki kota wisata ini memang memiliki banyak destinasi cantik yang wajib dikunjungi. Diantaranya Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Taman Ngarai Maaram, Ngarai Sianok, Janjang Koto Gadang (The Greatwall of Koto Gadang) , Janjang Seribu, terus ke Bukit Terkurung dan Taruko, kemudian kembali ke Panorama dan berhenti di Jam Gadang, Ikon Wisata kota Bukittinggi.

Penat seharian mengitari Bukittinggi tidak lengkap rasanya tanpa mengunjungi Jam Gadang. Taman pelataran Jam Gadang ini dipenuhi banyak jajanan khas yang bahkan sudah jarang ditemui. Seperti kerupuk mi, pensi, dll yang cocok menjadi camilan sembari menikmati riuhnya pusat kota tersebut.

Sejarah Jam Gadang

Jam Gadang adalah hasil karya orisinil arsitek Minang. Bangunan yang selesai dibangun pada tahun 1926 ini dirancang sendiri oleh Yazid Sutan Gigi Ameh. Tanpa menggunakan besi dan semen. Sebagai perekat digunakan campuran kapur dengan putih telur dan pasir. Meskipun demikian, ternyata tugu setinggi 26 meter tersebut kokoh hingga saat ini.

Sejak awal pembangunan, atap Jam Gadang sudah berganti sebanyak tiga kali. Pertama sekali, bentuknya bulat dengan patung ayam menghadap ke timur. Kemudian ketika Jepang menggantikan Belanda, Atapnya disesuaikan dengan budaya Jepang. Hingga kemudian, menjadi Gonjong khas Minang sebagaimana kita ihat sekarang setelaah Bangsa ini Merdeka.

Jam Gadang dalam bahasa indonesia berarti Jam yang berukuran besar. Wajar saja, jam dengan diameter 80 cm ini memang unik. Kembaran Jam Bigben, London ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda dan didatangkan langsung dari Belanda.

Baca Juga :  Tempat Wisata Seru Untuk Liburan Akhir Tahun di Sumatera Barat

Keunikan Jam Gadang

Uniknya, bila diperhatikan dengan seksama, ada salah penulisan pada angka empat jam tersebut. Bila lazimnya angka romawi untuk 4 adalah IV , pada jam justru tertulis IIII. Hal ini tentunya menjadi tanda tanya. Banyak yang menduga itu adalah metafora untuk mengingat 4 orang yang meninggal dalam pembangunan tugu bergonjong ini.

Puas bersantai dan berfoto selfie , anda bisa singgah ke Restoran Simpang Raya ataupun ke Nasi Kapau Uni Lis, dua diantara banyak tempat makan enak di Bukittingi. Sebelum pulang jangan lupa beli oleh oleh sovenir dan Sanjai. Perjalanan wisata ke Bukittinggi tidak lengkap rasanya tanpa membeli sanjai.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.