Mitos dan Fakta mengenai ‘Ikan Larangan’ di Sumatera Barat

0

Bagi anda yang kebetulan melancong ke Padang Pariaman, cobalah sesekali singgah di Aur Malintang. Disini terdapat salah satu objek wisata dengan atraksi yang sangat unik. Berada di bawah Jembatan Jalan Raya Sijaniah, terdapat tempat wisata yang terkenal dengan Ikan Larangan. Tak hanya disini, banyak tempat lain di sumatera barat yang memiliki kawasan terlarang untuk menangkap ikan.

Ikan larangan, sesuai namanya adalah ikan yang dilarang untuk ditangkap/dipancing. Area perairan ikan larangan biasanya tertentu, seringkali disebut juga dengan sungai larangan. Perairan yang telah dibatasi dengan batas-batas tertentu sengaja dibuat terlarang. Sebagai penanda bagi pengunjung biasanya dibuatkan papan penanda bahwa kawasan tersebut adalah terlarang.

Mitos ‘Ikan Larangan’

Banya cerita dan mitos dari mulut ke mulut akan ikan larangan ini. Orang yang nekat menangkap ikan tersebut dipercaya akan mendapat kutukan, biasanya akan mengalami sakit perut hebat, hingga perutnya membuncit.

Selain itu masih banyak cerita mitos lain yang beredar mengenai ikan yang terlarang ini. Ikan-ikan yang tumbuh dengan cepat ini biasanya memiliki induak samang (majikan). Ada dukun tertentu yang melakukan ritual khusus saat pertama kali melepaskan anak-anak ikan di kawasan tersebut.

Dukun-dukun ini biasanya dijemput dengan emas dengan jumlah tertentu, sebagai jaminan. Melalui ritual tertentu dipercaya anak-anak ikan tidak akan meninggalkan perairan yang terlah ditentukan tersebut. Anak-anak ikan tidak akan hanyut oleh arus sungai, dan kemudian tumbuh besar di tempat yang dikehendaki dukun tersebut.

Baca Juga :  Kumpulan Lawakan dan 'Cerita Lucu' Ajo Andre yang Melegenda

Fakta ‘Ikan Larangan’

Ikan larangan tidak boleh ditangkap. Orang yang nekad biasanya akan memakan sumpah serapah dari penduduk sekitar. Mengenai kutukan perut buncit akibat mengambil ikan larangan sembarangan sebenarnya hanya bagian dari tradisi. Mitos ini diulang-ulangkan ke telinga generasi muda, sehingga menimbulkan rasa takut dan sugesti sendiri.

Diadakannya sungai larangan memberikan dampak positif pada penduduk setempat. Dengan adanya sungai larangan ini, penduduk setempat lebih aktif menjaga kebersihan sungai dan perairan. Karena selain terlarang untuk menangkap ikan, penduduk juga dilarang untuk membuang sampah dan mengotori sungai larangan. Dengan demikian, ikan bisa tumbuh dengan cepat dan sehat, sehingga wajar saja ikan larangan biasanya berukuran jumbo dan menggoda untuk ditangkap.

Ikan-ikan larangan biasanya dibuka bebas untuk umum sekali dalam setahun atau dalam periode waktu tertentu. Penduduk diperbolehkan untuk menangkap ikan, dan hasilnya kemudian dijual untuk kepentingan umum, seperti pembangunan tempat ibadah.

Pembukaan kawasan ikan larangan ini biasanya menjadi atraksi yang seru dan menarik bagi wisatawan. Melihat bagaimana masyarakat tumpah ruah ke air untuk menangkap ikan dengan tangan kosong, belum lagi perebutan antara penangkap ikan yang tak jarang mengakibatkan naiknya lumpur sehingga air menjadi keruh. Semakin keruh airnya, tentu mendapatkan ikan akan semakin susah dan kompetitif.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.