Perayaan 17 Agustus. Yuk Upacara di 3 Gunung Terpopuler Sumbar ini

0

Ada banyak cara untuk memaknai dan merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI). Sebagian orang merayakannya dengan menghias lingkungan dengan ornamen bendera dan nuansa merah putih, untuk menambah nilai nasionalisme. Sementara sebagian lain merayakannya dengan mengadakan pesta rakyat. Aneka perlombaan yang sifatnya menghibur dan merakyat tentunya, seperti panjat pinang, dll.

Bagi anda yang ingin mencoba sensasi yang berbeda, anda bisa merayakan HUT RI dengan mendaki gunung. Beberapa tahun belakangan, banyak orang yang berbondong-bondong untuk naik gunung, apalagi setelah populernya film 5 CM , yang bercerita tentang 5 sahabat yang bersama menaklukan Gunung Mahameru.

Hal itu sedikit banyaknya mempengaruhi trend untuk naik gunung, termasuk di Sumatera Barat sendiri. Diantara 7 gunung yang biasa didaki di Sumbar, terdapat 3 gunung yang paling populer. Uniknya lagi, setiap tanggal 17 Agustus, para pendaki turut serta mengadakan upacara bendera. Berikut ketiga gunung terpopuler si Sumbar;

Gunung Marapi (2891 mdpl)

Gunung Marapi

Upacara Bendera 17 Agustus di Gunung Marapi -Tanah Datar

Gunung Marapi adalah gunung terpopuler di Sumatera Barat. Gunung yang memiliki nilai historis bagi masyarakat minang ini memiliki tinggi 2891 mdpl. Gunung Merapi dipercaya sebagai kampung asal penduduk minangkabau, tak heran kemudian banyak pendaki yang datang kesini. Tak hanya dari penjuru kota di Sumatera Barat, tapi juga dari provinsi tetangga seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Utara.

Jalur pendakian utama gunung ini adalah melalui desa Batu Palano. Dari pasar Koto Baru, pendaki bisa mulai berjalan kaki, ataupun naik ojek ke Pos pendakian awal (Tower Telkom). Dari sini kemudian perjalanan baru benar-benar dimulai.

Terdapat beberapa pos pantau di sepanjang jalur pendakian. Pos 1 merupakan pos jaga polisi hutan. Pos berikutnya berada di pertengahan perjalana, atau yang lebih dikenal dengan Pos KM4. Kemudian yang terakhir adalah Cadas Merapi. Track menuju puncak Marapi terbilang cukup sulit karena harus melewati hutan yang sangat lebat dan dikelilingi jurang yang sangat dalam. Untuk menuntaskan 8 track sepanjang 8 kilometer ini Anda biasanya membutuhkan waktu sekitar 4 atau 5 jam.

Baca Juga :  Asal Muasal dan Cara ke 'Pulau Setan' di Kawasan Mandeh

Namun jika anda berhasil sampai ke puncak, penatpun akan lenyap seketika. Pemandangan Marapi dari puncak memang terkenal sangat cantik. Dari atas, anda akan seolah-olah berada di atas awan.

Beberapa waktu lalu, Gunung Marapi sempat ditutup dikarenakan oleh erupsi. Untuk itu dihimbau untuk para pendaki yang ingin naik pada peringatan HUT RI ini untuk berhati-hati dan mengikuti arahan Tim Ranger gunung Marapi.

Gunung Singgalang (2877 mdpl)

Gunung Singgalang bagai saudara bagi gunung Marapi. Meskipun demikian, gunung setinggi 2877 memiliki kondisi geografis yang berbeda dengan gunung Marapi. Gunung Singgalang ‘lebih basah’. Tak hanya jalur pendakian, di Puncak Gunung ini terdapat Telaga Dewi. Keberadaan telaga ini menjadi surga bagi para pendaki Singgalang, mengingat di Marapi sangat tidak mungkin mendapat sumber air di daerah puncak.

Gunung Singgalang

Talago Dewi Gunung Singgalang – Tanah Datar//Agam

Jalur pendakian gunung Singgalang yang utama adalah jalur Pandai Sikek. Dari pasar Koto Baru, pendaki bisa berjalan atau naik ojek (sekitar 2 km) ke pos pendakian gunung Singgalang, tepatnya di Desa Tanjuang, Kenagarian Pandai SikekDari sini perjalaan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan ke Tower (Stasiun Pemancar) RCTI/TVRI, lebih kurang 4 km.

Dari Stasiun Pemancar ini, anda bisa melihat Gunung Marapi di seberang, di lerengnya terdapat persawahan, dan terus ke kakinya terdapat kawasan pemukiman penduduk. Jika malam hari, lampu-lampu perumahan akan menambah cantiknya pemandangan dari sini.

Perjalanan sebenarnya bermulai dari sini. Perjalanan awal anda akan melewati kawasan hutan Perupuk (Lophopetalum javanicum). Selain trek yang cukup licin, apalagi di musim hujan. Pendaki biasanya cukup dibuat repot dengan tas carrier yang sering nyangkut.

Namun pendakian ini memiliki petunjuk jalur yang cukup jelas, selain penanda arah yang dibuat oleh pengelola kawasan gunung Singgalang, di sepanjang jalur pendakian terdapat kabel listrik yang sekaligus menjadi pemandu.

Baca Juga :  Pesona Danau Singkarak dan Event Balap Sepeda Internasional

Perjalanan normal hingga ke puncak memakan waktu 5 hingga 6 jam, tergantung kondisi cuaca. Saat musim hujan biasanya jalan menjadi sangat licin, dan belum lagi banyak pacet. Jadi hati-hati dan selalu awas dengan hewan kecil penghisap darah tersebut.

Pada bulan Agustus, biasanya pendaki tidka diperbolehkan untuk mendirikan tenda di lapangan. Pendaki akan diarahkan untuk mendirikan tenda di sisi lain di tepi Telaga Dewi. Karena lapangan tersebut nantinya akan digunakan untuk upacara bendera.

Gunung Talang (2597 mdpl)

Gunung Talang - Solok

Upacara Bendera 17 Agustus di Gunung Talang – Solok

Salah satu keunikan Gunung Talang adalah pesona tiga danau yang dimilikinya. Jika gunung Marapi tidak ada sama sekali, Gunung Singgalang punya Telaga Dewi. Gunung Talang dengan segenap kecantikannya memiliki view 3 danau sekaligus, yaitu Danau Diatas, Danau Dibawah dan Danau Talang.

Jalur pendakian ke gunung ini ada 2, yaitu via Bukik SIleh dan Aia Batumbuak (Solok). Hanya saja, jalur Aia Batumbuak lebih disukai karena medannya lebih ramah untuk pendaki, terutama pendaki pemula.

Gunung Talang memiliki sistem kelola yang sangat baik. Sepanjang perjalanan terdapat rambu-rambu dan petunjuk jalan. Rambu pertama, disebut rambu R0 dan terakhir adalah R54.

Sedangkan untuk persediaan air, pendaki bisa mengambilnya di R6 dan R54. Hanya saja, di R54  tak selalu terdapat air, karena memang berasal dari aliran air musiman.

Sebelum mencapai puncak gunung Talang, pendaki melewati kawsan kawah gunung yang masih aktif. Pekatnya bau belerang, sehingga pendaki diminta untuk menggunakan masker udara.

Khusus pada 17 Agustus ada upacara bendera bertempat di Shelter Utama gunung Talang. Upacara tidka hanya diikuti oleh para pendaki, seringkali dipimpin dan dikuti oleh pejabat pemerintahan setempat hingga TNI.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.