filosofi minang
filosofi minang

Filosofi pada Seni & Budaya Minang: Arsitektur, Makanan, Musik, Tari Hingga Bela diri

Posted on

Bumi minangkabau adalah tanah yang penuh dengan nilai filosofi. Salah satu yang paling mendasar dan paling banyak dipakai adalah “Alam Takambang Manjadi Guru”. Alam menjadi sumber inspirasi. Alam menyediakan semuanya yang manusia butuhkan.

Hal ini yang kemudian yang menjadikan masyarakat minang yang tidak hanya mengambil ilmu dari alam, tapi juga terus menjaga dan hidup berdampingan dengan alam.

Salah satu produk filosofis ini melahirkan yang namanya aspek budaya. Sebagai hasil cipta akal budi manusia minangkabau, sebagai wujud pengejewantahan ilmu dari alam tersebut.

Produk-produk itu kemudian diaplikasikan untuk menyokong kehidupan ekonomi, sosial, agama dan budaya di Minangkabau.

Arsitektur

Seni arsitektur minang mempunyai ciri yang sangat khas di Indonesia. Kita bisa melihat pada gaya bangunan rumah gadang dan rangkiang.

Bangunan rumah panggung dengan atap bergonjong ini sangat unik. Sekilas bentuknya mirip dengan kapal dengan anjungan di kiri kanan. Adapula yang menyebutnya mirip dengan susunan daun sirih. Yang mana kita tahu, bahwa sirih adalah simbol persaudaraan di Minang.

Bahan yang digunakan diambil dari alam, perkayuan yang diambil dari alam hingga atap ijuk yang sangat khas. Semua perkayuan tersebut disambung dan direkatkan dengan pasak. Sehingga hampir semua bagian rumah gadang tidak ada yang memakai paku.

Filosofi “Alam Takambang Jadi Guru” juga kita bisa lihat di ornamen dan motif ukiran rumah gadang. Semuanya bertema alam sekitar, tumbuhan dan hewan yang dekat dengan kehidupan masyarakat minang.

Masakan

Untuk urusan makan kita orang minang jagonya. Lihat di hampir setiap pelosok nusantara, bahkan sampai ke luar negeri, Rumah Makan Padang berdiri dan menjadi favorit. Tentunya dengan rendang sebagai salah satu makanan favorit. Makanan terlezat sedunia.

Masakan minang terkenal pedas dan kaya bumbu-bumbu rempah. Sebagaimana umumnya masakan nusantara. Serta dengan sedikit pengaruh dari kuliner India.

Dalam sepiring rendang, dengan potongan daging yang mendominasi bersama bumbu kelapa. Namun didalamnya terdapat campuran rempah-rempah seperti bawang merah, bwang putih, kunyit, jahe, lengkuas cabe, daun jeruk, serai dan lain-lain.

Semuanya harus sesuai porsinya agar rasa rendang seimbang dan lezat dimakan. Begitupun dengan kehidupan di Minangkabau. Semua orang punya tugas, fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Sesuai dengan jabatan dan tugasnya, harus seimbang sehingga kehidupan bisa berjalan dengan semestinya.

Literasi & Karya Sastra

Aksara di Minangkabau sudah dikenal sejak awal abad 12. Tulisan yang mereka gunakan merupakan pengaruh dari tulisan melayu. Bahkan pada fase awal disebutkan bahwa tambo minangkabau dituliskan dalam bahasa melayu. Hingga pada abad pertengahan baru kemudian digantikan oleh tulisan jawi.

Untuk karya sastra, ada banyak tulisan yang ditelurkan, bahkan sudah menjadi urban legend seperti Cindua Mato, Anggun nan Tongga, Malin Kundang, dll.

Sedangkan karya sastra modern kita mengenal nama-nama besar seperti Buya Hamka, dengan novel larisnya Tenggalamnya Kapal Van der Wijck, Dibawah lindungan ka’bah, Merantau ke Deli.

Ataupun Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis, Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) Karya Marah Rusli, Robohnya Surau Kami karya Ali Akbar Navis, Hingga untaian puisi dari Chairil Anwar dan Taufik Ismail.

Pepatah-Petitih

Bangsa Minang adalah bangsa yang diplomatis. Dalam dunia demokrasi di Minangkabau, pendapat disampaikan tidak secara langsung, namun menggunakan bahasa kias, perumpamaan, petatah dan petitih.

Budaya pantun dan petatah petitih sudah mengakar kuat di Minangkabau sejak jaman dahulu. Dari mulai urusan menasehati anak kemanakan, hingga urusan musyawarah kaum di rumah gadang, hingga musyawarah adat di kampung dan nagari. Petatah petitih tidak pernah lupa.

Ukiran & Tenunan

Sejak lama masyarakat minangkabau sudah mengembangkan ukiran dan tenunan. Ukiran seringkali kita lihat pada bangunan rumah gadang. Sedangkan hasil tenun biasanya dioleh menjadi songket, seperti yang dikembangkan masayrakat Pandai Sikek & Silungkang.

Motif ukiran dan tenunan banyak diambil (terinspirasi dari alam). Sebut saja misalnya Itik Pulang Patang, menggambarkan rapihnya hewan peliharaan tersebut. Atau Kaluak Paku, yang berkelok-kelok kemana mana dari yang melingkar besar hingga ujungnya yang melingkar kecil-kecil.

Musik & Tari

Musik dan tari minang adalah salah satu hasil karya cipta seni dan budaya yang cukup mempunyai nilai jual dan menjadi jati diri orang minangkabau.

Perkembangannya cukup dinamis, sudah banyak pengembangan tari dan musik minang. Disesuaikan dengan nilai-nilai dan instrumen masa kini namun tidak meninggalkan ciri khas dari inti tari dan musik tersebut.

Diantara tari minang yang terkanal adalah, tari piring, tari pasambahan, tari galuak, tari alang babega, tari indang, dll.

Sedangkan untuk musik minang berkembang sangat dinamis, dari mulai saluang, rabab, dendang, gamat (gamaik) hingga musik pop yang sangat digemari.

Silat & Pencak Silat

Silat dan pencak silat adalah dua hal yang berbeda. Silat sebagai ilmu beladiri, sedangkan pencak merupakan hiburan (entertaint).

Jurus-jurus yang ada di seni bela diri silat minang hampir semuanya diambil dari alam. Semua jurus serangan biasanya mengadaptasi dari hewan-hewan yang ada di sekitar hidup- dan kehidupan orang minang.

Salah satu yang paling terkenal adalah Silek Kumanggo, satu dari 10 aliran silat minang yang terkenal.

Upacara Adat

Semua unsur kesenian dan kebudayan tersebut bisa dengan mudah kita temukan pada festival dan upacara-upacara adat minang.

Seni arsitektur bisa kita lihat pada layout bangunan dan dekorasi yang sangat khas dengan motif ukiran dan warna khas minang. Ditimpali dengan aroma makanan khas minang sperti rendang, sate padang, soto padang.

Kemudian lihat orang yang datang, mamak dan bundo kanduang yang datang berpakaian adat, Bundo kanduang dan perempuan yang datang dengan baju kurung dan kain songketnya.

Acara dimualai dengan bismillah dan kato pasambahan, berupa petatah petitih dari yang punya kegiatan. Kemudian dilanjutkan dengan aneka tarian, musik hingga penampilan Randai.

Randai yang membawakan kaba dari cerita-cerita lama kesusastraan minang. Cindua mato umpamanya yang jadi lakon. Atau anggun nan tongga. Hingga cerita karangan, agar tetap dekat dengan kondisi zaman saat ini.

Sedangkan untuk upacara adat ada banyak macamnya, hingga dari upacara kelahiran, akikah, khitanan, pernikahan, kematian hingga permainan alek nagari seperti pacu jawi, pacu itik dll.

Comments

comments

Gravatar Image
Established Since "Gunuang Marapi Sagadang Talua Itiak"