minang vs sunda

Lucunya Saat Budaya ‘Parahyangan’ Bertemu Adat ‘Pariangan’

Posted on

Pariangan adalah kampung tertua, yang dipercaya sebagai asal usul nenek moyang orang minangkabau. Disinilah tampuk tangkai persebaran masyarakat minangkabau. Begitupun dengan Parahyangan, atau priangan, merupakan istilah untuk kawasan yang melingkupi daerah persebaran orang sunda.

Kedua kawasan ini memiliki kesamaan secara geografis, Sama sama berada di ketinggian pegunungan, Kampung Pariangan terletak di lereng gunung Marapi. Begitu juga dengan Parahyangan, yang secara bahasa artinya tempat bernaung para hyang (dewa), yaitu di daerah tinggi (pegunungan)..

Selain itu, keduanya sekarang tercatat dalam wilayah administratif dengan embel-embel ‘Barat’, satunya di pulau Sumatera dan satunya berada di barat pulau Jawa. Meskipun demikian, ada perbedaan culture  yang sangat kontras dan lucu.

  • ‘Aia Basuah’ VS ‘Kobokan’

Adat makan di minangkabau, setelah makan biasanya orang minang manonyong (menyiram)  tangan di piring makan. Kemudian baru dicampuangan (dicemplung)  ke tempat aia basuah, sehingga tangan yang dibilas dua kali lebih bersih. Selain itu, ‘membasahi’ piring juga bertujuan agar piring mudah dicuci.

Budaya sunda mengenal kobokan, bedanya mereka langsung mencemplungkan tangan ke tempat kobokan selepas makan. Mereka lebih suka piringnya kering, karna piring yang basah dianggap ‘tidak sopan’ dan tidak enak dilihat.

  • Saat kakinya terinjak (tak sengaja)

Orang minang biasanya lebih cepat marah dan emosi, saat kakinya tak sengaja terinjak mereka akan langsung ketus pada orang yang menginjak. ‘hei, kaki den tapijak. Bisa elok-elok ndak?’ 

Bedanya dengan orang priangan, jangankan marah mereka malah mintaa maaf, padahal mereka terinjak. “Maaf mas, kaki saja terinjak”.

Baca Juga :  Selain Cantik, Ini Alasan 'Gadih Minang' Adalah Calon Menantu Idaman

Mungkin ini pengaruh dari makanan padang yang pedas dan sarat klestrol, sehingga cepat naik pitam. Beda dengan orang sunda yang senang makan lalapan.

  • Beda cara menanggapi “capek”

Dalam perjalanan, saat mendengar kata ‘capek’ orang minang justru lebih laju. Sedangkan orang sunda kalau dikatakan ‘capek’ mereka justru berhenti untuk istirahat.

Kata Capek dalam kamus minang artinya Cepat, sedangkan dalam orang sunda dan daerah lain mengartikan Capek  sebaga ‘capai’ (lelah, penat).

  • Persoalan ‘Menantu Idaman”

Orang minang sebagian ‘alergi’ melepaskan anakanya, terutama laki laki untuk menikah dengan orang Sunda. Perbedaan adat yang dianut kemudian mengakibatkan anak mereka tidak memiliki suku. Orang minang menganut paham matrialineal sedangkan orang sunda dan kebanyakan suku di Jawa menganut patrialineal.

Sedangkan orang minang (lelaki) menjadi rebutan tak hanya orang sunda :D. Karena dipercaya orang minang adalah orang cadiak (cerdik) dan banyak akal.

Meskipun tidak sepenuhnya benar. Kadang pertemuan budaya kedua suku bangsa ini memang unik. Namun, justru perbedaan ini yang menjadikannya lucu dan bahan pertimbangan subjektif untuk menilai perilaku seseeorang (strerotip).

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D