Biografi Buya Hamka : Ulama dan Sekaligus Tokoh Politik & Sastra

0

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih akrab disapa dengan panggilan Buya Hamka adalah sosok asal minang yang disegani, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Penulis buku Dibawah Lindungan Ka’bah ini memiliki catatan tak hanya dibidang ilmu agama, bahkan juga sejarah politik Indonesia dan seni sastra.

Malik, begitu nama kecil beliau, lahir pada 17 februari 1908 di Nagari sungai batang, di tepian Danau Maninjau. Semasa kecilnya banyak dihabiskan untuk belajar mengaji dan pendidikan agama. Ia sempat belajar di Thawalib padang panjang. Sempat  juga ia belajar langsung dengan Zainudin labay El-yunusy di Diniyah School.

Hamka kecil tumbuh menjadi pemua yang pandai dan memiliki pengetahuan akan ilmu agama. Tak puas hanya belajar melalui kitab-kitab yang diperolehnya. Hamka berniat untuk mencari guru lain. Ia berniat merantau dan meninggalkan minangkabau, apalagi dengan kondisi keluarganya saat itu.

Saat berumur 12 tahun, kedua orang tua ‘bujang jauah’, begitu panggilan ayahnya kepadanya, bercerai. Malik dibawa ke Padang Panjang. Terpisah dari ibu kandungnya membuat Hamka kecil kadang nekad untuk berjalan sejauh 40 km ke Mianinjau untuk bertemu ibu kandungnya. Bahkan saat ia memutuskan berangkat ke Jawa, ia hanya pamit pada ibu kandungnya.

Saat itu 1924, Hamka menapakan kakinya di Jawa. Disana ia belajar agama dari banyak guru, salah satunya HOS Tjokroaminoto. Dari beliau, hamka belajar tentang praktik-praktik dalam syariat islam. Selain ilmu tafsir, ia juga belajar ilmu soial politik. Belum puas, kemudian Hamka berniat untuk belajar ke tanah arab.

Baca Juga :  Sinopsis dan Pesan Moral Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Saat itu Hamka baru berumur 19 tahun, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Perjalanan diam-diam tanpa diketahui ayahnya tersebut terlaksana pada tahun 1927, setelah ia memnjualkan kapas milik andungnya. Setelah berhaji, kemudian lekatlah gelar itu di depan namanya. Malik kemudian mengubah nama panggilannya menjadi Hamka.

Selepas musim haji, Hamka masih bertahan di mekkah. Ia bekerja di percetakan milik mertua Khatib al-minangkabawi. Disana kemudian ia bertemu Haji Agus Salim yang menyuruhnya untuk pulang. “Banyak pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik mengembangkan diri di tanah airmu sendiri”, ujar Agus Salim.

Karir Politik

Sekembalinya dari mekkah, Hamka bermukim di Medan. Disana beliau aktif menulis, tak hanya tulisan patriotis, namun juga roman. Penulis tenggelamnya kapal van der wijck ini kemudian menelurkan karya pertamanya si Sabariyah di sana. Serta novel laris dibawah lindungan ka’bah  yang kemudian diterbitkan pada tahun 1938.

Buya Hamka aktif berpolitik sudah sejak lama. Kariri politiknya dimulai dari Sarekat Islam. Kemudian ia bergerak bersama partai Masyumi yang menjadikannnya dewan konstituante pada pemilu 1955. Di dewan inilah kemudian ia bertemu dengan tokoh lain seperti Muhammad Natsir, Mohammad Roem, Isa Anshari. Kariri politiknya kemudian berakhir ketika Soekarno mengeluarkan dekrit presiden pada 5 juli 1959 yang membubarkan konstituante.

Baca Juga :  Biografi dan Profil Rasuna Said : Pionir Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

Kemudian beliau banyak menghabiskan waktu untuk menulis sastra dan menyelesaikan tafsir al-azhar. karya terbesar buya hamka yang ia selesaikan didalam penjara.

Karya Sastra

Siapa yang tidak kenal dengan kisah menyayat Tenggelamya kapal Van der wicjkYa, kisah cinta mengharukan antara zainudin dan hayati itu ditulis oleh Hamka. Siapa sangka roman itu ditulis oleh seorang buya besar.

Banyak lagi novel karya hamka yang mewarnai kesusastraan Indonesia, dibawah lindungan ka’bah, merantau ke deli dan masih banyak lagi. Setidaknya ada 94 karya sastra yang ditulis Hamka.

Kata Mutiara

” Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar bekerja, kera di rimba juga bekerja”

Beliau menghembuskan nafas terakhir pada 24 juli 1981 dan dimakamkan di Tanah Kusir. Catatan beliau, tak hanya karya tafsir dan buku agama, bahkan karya roman beliau menjadi peninggalan yang banyak dijadikan referensi pelajar masa kini.

Jika anda melakukan wisata ke wilayah Agam, tepatnya Danau Mainjau, anda bisa singgah dan napak tilas kehidupan Hamka disana.

Comments

comments

Share.

About Author

Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D

Comments are closed.