Tak Hanya Songket, Minang Juga Punya “Batik Tanah Liat”

0

Selama ini, produk pakaian (fashion) yang terkenal dari Sumatera Barat adalah songket. Hasil kerajinan Songket biasanya diproduksi di Pandai Sikek, Silungkang (Sawahlunto) dan Payakumbuh. Selain produk tenunan ini, ternyata ada hasil kerajinan lain yang tak kalah eksis di Minangkabau, yaitu Batik Tanah Liek.

Batik memang sangat identik dengan kebudayaan Jawa. Sehingga wajar saja batik berwarna tanah liat ini tidak sepopuler songket yang selalu dipakai dalam upacara adat di Minangkabau.

Sejarah Batik Tanah Liat

Batik Tanah Liek (Batik Tanah Liat) diperkirakan sudah ada sejak abad ke 16. Kebudayan membatik ini dibawa oleh suku bangsa China ke Minangkabau. Pada masa penjajahan Jepang, batik tanah liat ini memasuki masa vakum. Tidak ada lagi pengrajin kesesian membatik ini.

Hingga pada tahun 1993, seorang pengrajin bernama HJ Wirda Hanim tergerak untuk kembali memproduksi batik khas minangkabau tersebut. Niat ini muncul setelah melihat batik yang dipakai para ninik mamak dan bundo kanduang di kampungnya, Sumanik, Tanah Datar yang sudah usang dan robek sana-sini.

Proses Membuat Motif pada Batik Tanah Liat

Proses Membuat Motif pada Batik Tanah Liat

Perjuangan Ibu Wirda Hanim tidak mudah, Beliau harus membangkitkan kembali kebudayan minang yang sudah terbenam puluhan tahun. Hingga kemudian pada tahun 1995 ia berhasil me-recovery motif-motif tua berkat bantuan pembatik yang ia datangkan dari Jogjkarta.

Baca Juga :  Peranan dan Filosofi 'Kerbau' Pada Kehidupan Masyarakat Minang

Cara Membuat Batik Tanah Liat

Sesuai namanya, proses pembuatannya yang utama melibatkan tanah liat. Pertama kali kain direndam dengan tanah liat. Setelah satu minggu kain dicuci dan dibersihkan. Warna tanah liat yang coklat kemerahan itulah kemudian menjadi warna dasar dari kain batik.

Tahap berikutnya adalah memberi motif dan mewarnai. Untuk zat pewarna diambil dari alam, seperti getah kulit jengkol, kulit rambutan, kulit mahoni, akar jerami, gambir dan masih banyak lagi bahan lainnya.

Motif Batik Tanah Liat

Motif batik yang utama diambil dan diadaptasi dari alam dan lingkungan sekitar. Motif kuno biasanya berupa kuda laut dan burung hong, yang berasal dari China. Selain itu juga diperkenalkan motif tradisional minang seperti; Siriah dalam carano, Kaluak paku, Kuciang tidua, lokcan, batang kayu, tari piring, kipas, dll.

Motif Jam Gadang Pada Batik Tanah Liat

Motif Jam Gadang Pada Batik Tanah Liat

Hingga sekarang, sudah banyak motif yang dikembangkan. Seperti motif Tabuik dan Jam gadang. Motif-motif ini biasanya menjadi ciri khas dari 3 sentra utama pembuatan batik tanah liat yang tersebar di Padang, Pesisir Selatan dan Dharmasraya.

Harga Batik Tanah Liat

Saat ini, usaha yang dirintis oleh HJ Wirda Hanim ini sudah memiliki konsumen tersendiri. Apalagi setelah mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai hasil karya kemanusiaan (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tahun 2009. Hasil karya Batik Tanah Liat ini bisa dibeli di showroom milik HJ Wirda Hanim yang beralamat di Jl. Sawahan Dalam, No.33, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.

Baca Juga :  Mengenal 'Gasiang Tangkurak' dan Dunia Magis Perdukunan Minang

Harga batik sangat variatif mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung motif dan tingkat kesulitan pembuatan. Misalnya untuk batik dengan motif Jam Gadang dan Rangkiang Rumah Gadang dibanderol mulai 80 ribu rupiah. 

Selain itu terdapat juga kain batik dengan motif aneka ukiran minang, motif air mancur Lembah Anai yang dijual mulai 250 ribu rupiah. Sedangkan untuk motif Kuciang Lalok, dan Jembatan Siti Nurbaya dijual mulai 500 ribu rupiah.

Ada pula jenis batik tulis dengan motif Bingkuang, motif Ala Paca dan Kaluak Paku yang harganya bisa mencapai 1 juta rupiah lebih.

Comments

comments

Share.

About Author

Undergraduated Student of University of Indonesia. Gadih Minang asli. Lahia di Ranah Minang & Gadang jo Samba Randang. Hoby Menari Minang, Menyanyi Lagu Minang dan Terutama Makanan Minang :D

Comments are closed.