Asal Usul Minangkabau Menurut Tambo dan Catatan Sejarah
Istano Basa Pagaruyuang. Img: wikimedia

Asal Usul Minangkabau Menurut Tambo dan Catatan Sejarah

Posted on

Minangkabau, atau juga sering disebut dengan minang saja adalah salah suku bangsa yang menghuni daerah sumatera bagian tengah. Secara geografis adalah orang-orang yang menempati wilayah Sumatera Barat, sebagian wilayah Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara hingga ke bagian barat daya aceh. Tidak hanya di daratan sumatera, peengaruhnya sampai ke wilayah negeri jiran Malaysia.

Wilayah asli minangkabau terbagi menjadi 3, yaitu wilayah darek, rantau dan pesisir. Wilayah darek adalah wilayah daratan yang merupakan tempat awal mula orang minangkabau berasal. Daerah ini biasa dikenal dengan sebutan Luhak Nan Tigo. Daerah tersebut adalah luhak (sekarang disebut kabupaten) Tanah Datar, Agam dan Lima puluh Kota.

Sedangkan wilayah yang berada diluar ketiga wilayah tersebut disebut dengan nama daerah rantau. Persebaran (wilayah rantau) orang minangkabau ini tak hanya ke luar daerah bahkan hingga menyebrang pulau dan batas negara.

Sedangkan wilayah pesisir merupakan wilayah Minangkabau yang posisi demografisnya berada di pinggiran pantai, seperti Kabuaten Pesisir Selatan dan Wilayah Pariaman.

Asal Usul Orang Minang

Orang minang adalah keturunan Alexander The Great. Berdasarkan motologi yang berkembang di masyarakat minang, mereka mempercayai bahwa mereka mewarisi darah pemimpin masedonia tersebut. Bagaimana kisahnya?

Zulkarnain atau Alexander The Great ini memimpin Masedonia pda tahun 356 sampai 323 sebelum Masehi. Raja agung ini menguasai wilayah benua Ruhum.

Singkat cerita, ia memiliki 3 orang putera. Yang pertama bernama Sultan Maharaja Alif, yang kedua bernama Sultan Maharaja Depang, dan yang bungsu bernama Sultan Maharaja Diraja.

Setelah raja Alexander Agung ini wafat, ketiga putera mahkota tersebut berlayar ke wilayah kekuasaan yang sudah ditentukan ayahnya, Sultan Maharaja Depang berangkat ke daerah daratan Cina. Sultan Maharaja Diraja berangkat ke selatan, khatulistiwa.

Si Bungsu ini kemudian berlabuh di gunung Marapi. Kala itu daratan disekelilingnya belum terbentuk. Masih berupa daratan yang dikelilingi air.

Lama-kelamaan air laut surut, daerah tuo  tersebut kemudian berkembang ke wilayah sekitarnya. Yaitu ke wilayah Luhak Agam dan Luhak Limapuluh Kota saat sekarang. Dengan tetap menjadikan nagari tuo pariangan, di Luhak Tanah Datar sebagai sentral.

Hal ini dikuatkan dengan pepatah minang:

Darimano Titiak Palito (Darimana Titik Pelita)

DIbaliak Telong nan Batali (Dari balik telong/lampu yang bertali)

Darimano Asa Niniak Kito (Darimana Asal Nenek Moyang Kita)

Dari Puncak Gunuang Marapi (Dari Puncak Gunung Marapi)

Keturuanan Sultan Maharaja Diraja ini kemudian berkembang. Singkat cerita kemudian lahirlah kerajaan Pagaruyuang, dengan garisan sejarah Raja Aditiyawarman.

Asal Usul Minangkabau : “Adu Kerbau”

Berdasarkan tambo minangkabau, Minangkabau diambil dari kisah adu kerbau. Akar kata minangkabau berasal dari dua kata, yaitu minang (manang/ menang) dan kabau (kerbau).

Minangkabau dahulunya berbetuk kerajaan yang berpusat di Luhak nan Tuo yang dipimpin oleh Raja Adityawarman. Suatu masa, datanglah utusan pasukan kerajaan Majapahit yang ingin menginvasi minangkabau. Salah satu jalan untuk mempertahanan tanah ulayat adalah dengan peperangan. Namun kemudian para ninik mamak dan petinggi kerajaan mengadakan musyawarah mufakat menanggapi persoalan tersebut.

Untuk menghindari pertempuran yang memakan banyak korban jiwa, masyarakat sekitar mengusulkan untuk diadakan Adu kerbau. Usulan ini kemudian diterima oleh pihak lawan. Mereka mendatangkan seekor kerbau besar bertanduk panjang. Namun lawan yang disodorkan adalah seekor kerbau kecil.

Tanpa disangka, kerbau kecil berhasil memenangkan adu kerbau tersebut. Kerbau lawan tumbang dengan luka di bagian perut. Hal itu tentunya menjadi tanda tanya yang besar. Banyak orang yang terlambat menyadari trik yang diusulkan cadiak pandai  orang minang tersebut.

Rahasia kemengan ternyata terletak pada inang  yang dipasang di tanduk kerbau. Kerbau kecil yang masih erat menyusu sengaja dipisahkan dengan ibunya. Sehingga ketika bertemu kerbau lawan, kerbau kecil ini akan mencari-cari susu. Inang yang terpasang di tanduknya kemudian menggores perut kerbau lawan.

Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periangan (Pariangan) menggunakan nama tersebut. Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Asal Usul Minangkabau Menurut Catatan Sejarah

Cerita adu kerbau tersebut diperkirakan bersumber pada serangan kerajaan Majapahit ke Minangkabau. Dalam catatan Negarakertagama (1365), ditemukan istilah Minangkabwa, merujuk pada satu kerajaan Melayu yang pernah ditaklukannya.

Dalam catatan lain juga ditemukan istilah Mi-nang-ge-bu  yang juga diperkirakan merujuk pada kerajaan Minangkabau. Yaiutu pada catatan Tawarikh Ming (1405), dimana masa itu kerajaan minangkabau sempat mengirim utusan pada Kaisar Yongle di Nanjing.

Bahkan, bukti sejarah di abad keenam sempat menyinggung nama Minangkabau. Dalam Prasasti Kedukan Bukit (682) disebutkan bahwa Dapunta Hyang, pendiri kerajaan Sriwijaya, pernah bertolak dari Minanga. Di baris lain ditemukan istilah Minangatamvan, yang dipercayai sebagai kerajaan Minangkabau.

Catatan ini kemudian menjadi bukti kuat keberadaan dan eksistensi kerajaan minangkabau masa dahulu. Meskipun yang lazim diceritakan adalah kisah adu kerbau, sebagaimana tertulis dalam tambo.

Definisi Orang Minang

Orang minang adalah orang yang lahir dari serorang ibu orang minang. Sistem kekerabatan keibuan ini membatatasi, secara harafiah orang yang lahir tidak dari ibu bersuku minang (meskipun memiliki bapak orang minang) bukanlah orang minang. Istilahnya adalah ‘tertumpang’.

Selain garis keturunan, syarat kedua yang harus terpenuhi adalah beragama islam. Sebagaimana sudah digariskan dan disepakati para ninik mamak pada perjanjian bukit marapalam. Orang minang haruslah menjunjung “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Adat bersendi ke Syarak/Agama, Syarak bersendi ke Kitab Allah/Al-Quran).

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dipahami alasan Suku Mandailing, Suku Mentawai tidak bisa disebut sebagai orang minang. Meskipun tinggal di wilayah minangkabau ataupun paham dengan bahasa dan budaya minang.

Bahasa Minang

Bahasa minang yang digunakan orang minang sebagian besar merupakan akar kata melayu. Kata-kata tersebut diserap menjadi bahasa minnang dengan penyesuaian dialek masing-masing daerah.

Misalkan kata Dapur, di sebagian wilayah diucapkan dengan akhiran -ua, menjadi Dapua. Misal untuk wilayah kota padang, Bukittingi, dll. Sebagaian daerah lain menjadi akhiran -ue, menjadi Dapue. Seperti di wilayah Tanah Datar, sebagian wilayah Agam, dll. Di sebagian daerah lain, diucapkan menjadi Dopua. Yaitu di wilayah Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

Untuk beberapa daerah terjadi akulturasi budaya, terutama daeah yang berbatasan langsung dengan provinsi tetangga (Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara).

Minangkabau Saat Ini

Untuk kondisi saat sekarang, secara geografis suku minang adalah orang yang berasal dari daerah Provinsi Sumatera Barat. Areanya menjadi lebih sempit dari wilayah minangkabau pada zaman dahulu yang sampai ke provinsi tetangga.

Namun secara sosial, orang-orang minang memiliki persebaran yang sangat luas antar wilayah bahkan antar negara. Dimanapun mereka bereda, akan selalu ada paguyuban dan persaudaraan dari suku bangsa yang terkenal dengan makanan rendang, makanan terlezat nomor 1 di dunia.

Catatan kaki:

  • Cadiak Pandai : Kaum Intelektual, penasihat kebijakan.

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D