Ini Bedanya ‘Kids Zaman Now’ dan Anak Minang ‘Saisuak’ Saat Lebaran Datang

0

Biasanya ngapain nih saat lebaran? Kumpul-kumpul keluarga besar? Open House? Atau mengunjungi anak yatim buat bagi-bagi rezeki? Alhamdulillah hal-hal yang dilakukan saat lebaran adalah hal positif. Tapi itu hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa, orang-orang yang sudah bekerja, yang pengalaman hidupnya sudah menelan asam garam hidup ini. Eaaa…

Gimana dengan anak-anak kecil dan remaja? Di Minangkabai ‘dulunya’, remaja/pemuda dan anak-anak beriringan bersama-sama mengunjungi setiap rumah di kampungnya. Ngapain?? So, check it out!!

Generasi Zaman ‘Saisuak’

Sekitar tahun 1990-an sampai dengan 2000-an, banyak remaja/pemuda dan anak-anak bergerombolan, berkeliling kampung untuk mengunjungi setiap rumah. Kegiatan ini disebut dengan ‘Nambang’ dan dilakukan saat lebaran sebagai tradisi bersilaturrahmi di Minangkabau. Bukan hanya silaturrahmi, remaja/pemuda dan anak-anak ini akan memperoleh sajian camilan lebaran, seperti kue kering, ketupat, bahkan diberi uang ‘tegang’ a.k.a uang yang baru keluar dari bank. hahaha 😀

Kenapa disebut ‘Nambang’?

‘Nambang’ dalam Minang diartikan sebagai menambang (pundi pundi uang) atau sering juga digunakan sebagai istilah saat mencari nafkah dengan menjadi seorang sopir bus, angkot, atau ojek. Dikaitkan dengan kegiatan remaja/pemuda dan anak-anak Minangkabau ini, karena mirip seperti kegiatan sopir tersebut. Sama-sama berpindah-pindah tempat dan memperoleh uang, lalu uang yang mereka kumpulkan akan digunakan untuk membeli mainan atau camilan-camilan yang mereka suka. Betapa bahagianya menjadi remaja/pemuda atau anak-anak saat itu.

Baca Juga :  Welcoming The Blessed Ramadhan, Listing The Menus of Your Breakfast

Tapi itu dulu, zaman ‘saisuak’. Sekarang?

Generasi Zaman ‘Now’

Remaja/pemuda dan anak-anak zaman ‘now’ disebut juga dengan generasi milenial. Generasi ini sudah sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang terus memberikan pemanjaan terhadap generasi ini. Tidak ada lagi ketertarikan terhadap kegiatan silaturrahmi seperti generasi ‘saisuak’. Kalau zaman dulu, belum ada yang namanya Whatsapp, Line, BBM, dan kawan-kawan.

Jadi generasi ‘saisuak’ untuk bersilaturrahmi harus berkunjung secara langsung ke rumah orang-orang. Beda dengan generasi milenial ini, dengan kecanggihan teknologi yang menyediakan applikasi komunikasi jarak jauh, mereka tingga mengirimkan tulisan sebagai bentuk ‘silaturrahmi’ keoada orang-orang dekat.

Oleh karena itu, tradisi ‘nambang’ sudah mulai ditinggalkan oleh generasi zaman ‘now’ karena sudah ada cara paling gampang dan mereka tidak perlu capek-capek mengunjungi orang-orang terdekatnya.

Sedangkan silaturrahmi terjalin saat bertemunya dua orang manusia, saling berjabat tangan, dan berinteraksi secara langsung. Dengan mulai ditinggalkannya tradisi ‘nambang’ ini, sulit bagi orang-orang tua untuk mengenali siapa anak siapa, siapa cucu siapa, bahkan generasi milenial ini sudah tidak begitu tertarik dengan mendapatkan uang baru seperti generasi ‘saisuak’.

Oleh karena itu, mari kita kembali mengajarkan dan menerapkan tradisi ini agar remaja/pemuda dan anak-anak kita dapat menjalin silaturrahmi dengan orang-orang sekitarnya.

-Kembali Kepada Tradisi yang Positif-

Source :

  • www.repubilka.co.id/ Pudarnya Tradisi Nambang Saat Lebaran
Baca Juga :  Jelang Berbuka. Ini Tempat 'Ngabuburit' Favorit di Sumatera Barat

Comments

comments

Share.

About Author

Hometown Bungo Tanjung, Batipuah, Tanah Datar, Minangkabau; Alumni of Physics, Institut Teknologi Bandung; Dancer of Unit Kesenian Minangkabau (UKM ITB); Demand Planner of PT. Paragon Technology and Innovation

Comments are closed.