Minangkabau tempo dulu

Menilik Makna Pepatah “Agamo (Syarak) Batilanjang, Adaik Basisampiang”

Posted on

Syarak Batilanjang, adaik basisampiang atau dalam bahasa Indonesianya ‘Syarak (agama) telanjang, dan adat (memiliki) kain samping”. Pepatah minang yang sudah sangat jarang dipakai dan diperdengarkan ini mungkin terdengar ambigu dan susah dimaknai. Apalagi dengan kondisi anak kemenakan yang sekarang sudah mulai jarang duduk beradat  dengan mamak. Sehingga pengetahuan mereka tentang adat kian sedikit.

Agamo Batilanjang artinya sebagai masyarakat minang yang menganut adat basandi syarak, haruslah menjalankan ajaran agama dengan kaffah, mutlak, dan tidak bisa tidak. Semua ajaran dan perintah agama haruslah diajarkan secara tegas dan tidak samar samar. Apa yang halal adalah halal dan apa yang haram adalah haram, tidak ada yang sifatnya tengah-tengah. Semua yang sifatnya ma’ruf  sudah menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Dan apa-apa yang mungkar  haruslah dihindari. Secara sederhana, maksudnya batilanjang (telanjang)  adalah bahwa harus jelas terlihat batas terang. Antara hal yang Haq dan Bathil.

Lalu apa hubungannya dengan adaik basisampiang?

Mufakat tokoh agama dan adat di bukit marapalam melahirkan falsasah hidup utama masyarakat minang. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Artinya adat minang harusalah bersesuaian dengan agama islam. Setiap ketentuan adat yang bertentangan dengan ajaran agama haruslah dihapuskan. Sedangkan adat dan kebiasaan asli minang tetap dipertahankan selama tidak melanggar hukum agama. Sehingga adat dan syarak menjadi bagai aua jo tabiang, sanda manyanda kaduonyo (bagai aur dengan tebing, saling menopang).

Adaik Basisampiang tentu saja erat kaitannya dengan ajaran syarak. Definisi basisampiang  sendiri maksudnya adalah bahwa ajaran adat minang diajarkan melalui kiasan. Berbeda dengan ajaran agama yang sangat tegas hitam-putihnya, dan terkesan ‘blak-balakan’.

Baca Juga :  Batas Wilayah Minangkabau Menurut Tambo dan Arah Mata Angin

Ajaran agama disampaikan dengan dalil alquran dan sunnah, dan pemaknaan akan ayat adalah jelas dan bersifat universal untuk semua orang. Sedangkan adat diajarkan dengan banyak kata kiasan dan multitafsir. Misalnya saat seorang mamak berkata “Lah santiang bana anak bujang kini” . Kalimat tersebut bisa memiliki pemaknaan berbeda tergantung kondisi. Bisa saja itu berupa kalimat pujian bahwa anak bujang tersebut memang telah cukup pandai dan bijak (santiang). Atau bisa saja itu adalah sarkasme untuk menyindir anak bujang yang kelakuannya tidak beradat.

Simuncak mati tarambau

ka ladang mambao ladiang

luko lah paho kaduonyo

syarak jo adaik di minangkabau

saumpamo aua na jo tabiang

sanda manyanda kaduonyo

Comments

comments

Gravatar Image
Gadih minang tulen, meskipun lahir dan besar di Jakarta. Menyukai liburan ke tempat wisata di Sumatera Barat, sambil menikmati kuliner. :D